PCNU Protes Pernyataan DPR RI Perihal Ulama dan Pesantren Terlibat Narkotika

Amin Basiri • Dipublikasikan Senin, 13 April 2026 | 21:18 WIB
BERSAHAJA: Ketua PCNU Pamekasan KH Muchlis Nasir.
BERSAHAJA: Ketua PCNU Pamekasan KH Muchlis Nasir.

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pernyataan anggota DPR RI Fraksi PKS Aboe Bakar Al-Habsyi yang menyebut ulama dan pesantren terlibat kasus narkotika menuai reaksi keras. 

Kalangan pesantren di Madura menilai pernyataan tersebut tidak berdasar dan mencederai marwah ulama.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan KH Muchlis Nasir mengecam keras pernyataan tersebut.

Narasi itu terkesan sebagai framing keji terhadap pesantren, khususnya di Madura. 

”Itu sangat mencederai pesantren. Seolah-olah ada sentimen terhadap lembaga pendidikan keagamaan,” ujarnya.

Selama ini pesantren justru berperan besar dalam membentuk moral generasi bangsa. Karena itu, tidak tepat jika dikaitkan dengan praktik peredaran narkoba tanpa bukti yang jelas. 

”Masalah narkoba ini kompleks dan menjadi tanggung jawab bersama. Kalau ada yang terlibat, siapa pun harus ditindak. Tapi kalau menuding pesantren sebagai gembong tanpa bukti, itu fitnah besar,” tegasnya.

Dia menambahkan, meski yang bersangkutan telah menyampaikan permintaan maaf dan klarifikasi, luka akibat pernyataan tersebut tetap menjadi catatan serius bagi kalangan pesantren.

”Sebagai sesama muslim tentu kita diajarkan saling memaafkan. Tapi bekas fitnah ini harus menjadi perhatian besar bagi kaum santri dan pesantren di seluruh Indonesia,” imbuhnya.

Pihaknya mengimbau warga Nahdlatul Ulama (NU) di Pamekasan agar tetap tenang dan tidak terpancing emosi.

 Dia meminta agar seluruh elemen mengikuti arahan para kiai.

Sementara itu, setelah menuai gelombang protes dari berbagai pihak, Aboe Bakar Al-Habsyi akhirnya menyampaikan permintaan maaf.

Dalam video klarifikasi yang beredar, dia mengaku menyesal atas ucapannya.

”Saya memohon maaf atas kata-kata saya yang mungkin sangat menyakitkan para ulama kita di Madura maupun masyarakat. Saya secara pribadi merasa bersalah,” tuturnya.

Dia menjelaskan, pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat bersama Badan Narkotika Nasional (BNN).

Namun, maksudnya bukan menuduh ulama dan pesantren Madura secara umum terlibat narkotika.

”Yang saya harapkan adalah bantuan agar peredaran narkoba yang masuk ke pesantren bisa dicegah. Jangan sampai pengedar leluasa masuk dan merusak lingkungan pesantren,” tandasnya. (afg/jup) 

Editor : Amin Basiri
protes pcnu dpr ri PCNU Pamekasan