PAMEKASAN, RadarMadura.id – Distribusi liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg di Kabupaten Pamekasan sempat tersendat.
Kondisi ini dinilai berpengaruh terhadap kenaikan harga barang bersubsidi tersebut.
Sebagian warga merasa kesulitan mendapatkan LPG melon tersebut dan harganya juga naik.
Adnan, warga Desa Taroan, Kecamatan Tlanakan, mengaku sulit mendapatkan LPG melon.
Baca Juga: Warga Keluhkan Kenaikan dan Kelangkaan Gas Melon, Wabup Fauzan Khawatir Ada Penimbunan LPG Subsidi
Dia juga terpaksa membeli dengan harga di atas harga eceran tertinggi (HET). Di desanya, harga LPG di tingkat pengecer mencapai Rp 23 ribu per tabung.
”Di pangkalan sering kosong. Jadi terpaksa beli di pengecer meskipun harganya lebih mahal,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup memberatkan warga, terutama pelaku usaha kecil dan masyarakat berpenghasilan rendah yang bergantung pada LPG bersubsidi untuk kebutuhan sehari-hari.
Terkadang masyarakat harus berkeliling ke beberapa tempat untuk mendapatkan LPG melon.
”Harapannya, pemerintah segera mengambil langkah konkret, sehingga pasokan LPG di Pamekasan kembali normal, harga stabil dan mudah didapat,” harapnya.
Kondisi berbeda dialami warga Desa Ambender, Kecamatan Pegantenan. Adro’i, warga setempat, menyebut jika harga LPG melon relatif stabil dengan harga Rp 20 ribu.
”Masih wajar harganya karena pengecer ngambil untung Rp 2 ribu. Sejauh ini juga masih mudah didapat. Stoknya juga ada, jadi masyarakat tidak sampai kesulitan,” ujarnya.
Baca Juga: Harga LPG Melon di Wilayah Kepulauan Meroket, Tembus Rp 35 Ribu Per Tabung
Kabag Perekonomian Setkab Pamekasan Bachtiar Effendy mengaku, pihaknya telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada Kamis (9/4).
Itu dilakukan menyikapi dugaan kelangkaan dan lonjakan harga LPG 3 kg di tengah masyarakat.
Pihaknya menelusuri rantai distribusi secara menyeluruh, mulai tingkat agen hingga pangkalan.
Menurutnya, ada beberapa pemicu yang menyebabkan LGP 3 kg tidak stabil pasca-Lebaran Idul Fitri.
Hari libur nasional atau tanggal merah berdampak pada berkurangnya distribusi dari Pertamina serta meningkatnya permintaan dari masyarakat karena adanya hajatan dan kegiatan sosial lainnya.
”Ada salah satu agen yang tidak dipenuhi secara utuh permintaan LPG 3 kg sehingga berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan di daerah tersebut,” ujarnya.
Bachtiar memastikan kondisi pasokan LPG secara umum masih aman.
Dia melihat ketersediaan stok, kelancaran pengiriman, serta aktivitas pengisian LPG di stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE) masih dipadati truk pengangkut.
Pihaknya optimistis kebutuhan masyarakat dalam waktu dekat dapat terpenuhi.
”Jangan sampai ada permainan harga di atas batas yang telah ditentukan, karena kami bersama aparat penegak hukum akan terus mengawal ini langsung ke lapangan,” tegasnya.
Dia juga meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan yang berpotensi memicu terjadinya panic buying.
Pemerintah berharap masyarakat tetap membeli LPG sesuai kebutuhan agar distribusi tetap berjalan normal dan merata.
”Diharapkan pihak-pihak yang bukan penerima manfaat jangan menggunakan LPG bersubsidi seperti rumah makan (RM), usaha laundry, SPPG, dan lain sebagainya,” pungkasnya. (lil/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti