PAMEKASAN, RadarMadura.id – Transformasi kelembagaan menuju Universitas Islam Negeri (UIN) Madura tak hanya berhenti pada perubahan nama.
Kampus mendorong lahirnya prestasi akademik mahasiswa, terutama melalui publikasi artikel ilmiah di jurnal bereputasi.
Rektor UIN Madura Saiful Hadi menegaskan, penguatan kapasitas mahasiswa menjadi bagian penting dalam pengembangan institusi.
Salah satunya dengan memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang mampu menembus jurnal ilmiah nasional terakreditasi.
Menurut dia, kampus memberikan reward berupa uang pembinaan bagi mahasiswa yang artikelnya terbit di jurnal yang terindeks minimal Sinta 3 hingga Sinta 2.
Penghargaan tersebut diharapkan bisa membantu mahasiswa mengembangkan diri.
”Termasuk, meringankan beban perkuliahan seperti pembayaran uang kuliah tunggal (UKT). Target kami pada 2026 ada 50 mahasiswa menjadi penulis utama yang artikelnya terbit di jurnal Sinta 2 dan Sinta 3,” ujarnya.
Saiful menegaskan, upaya itu sudah digagas sejak 2022. Kampus secara konsisten membekali mahasiswa dengan literasi kepemimpinan, kewirausahaan, dan kepenulisan.
Momentum perubahan dari IAIN Madura menjadi UIN Madura juga ingin diisi dengan capaian-capaian akademik mahasiswa.
”Penguatan ini tidak hanya dilakukan di tingkat institut. Cita-cita itu juga didorong mulai dari program studi (prodi) hingga fakultas agar lahir budaya akademik yang kuat di kalangan mahasiswa,” tegas Saiful.
Selain prestasi akademik, kampus juga tengah menyusun sistem apresiasi untuk prestasi nonakademik.
Draf penghargaan tersebut kini disiapkan oleh bidang kemahasiswaan agar mahasiswa yang berprestasi di berbagai bidang tetap mendapat dukungan dari kampus.
Saiful menambahkan, ada tiga tema besar yang didorong untuk ditulis mahasiswa dalam karya ilmiah.
Pertama, tema pembangunan manusia berkelanjutan yang berkaitan dengan program prioritas pemerintah, seperti makan bergizi gratis.
”Tema ini menarik untuk dikaji karena berkaitan dengan pemenuhan gizi masyarakat sekaligus berdampak pada dinamika ekonomi lokal melalui keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam penyediaan bahan pangan,” urainya.
Tema kedua adalah ekoteologi. Kajian tersebut menjadi blueprint Kementerian Agama (Kemenag) RI yang beririsan dengan sustainable development goals (SDGs) atau isu pembangunan berkelanjutan.
Sementara, tema ketiga adalah kemaduraan. Kampus Taneyan Lanjang itu mendorong kajian nilai-nilai lokal Madura yang bisa berkembang secara global sekaligus menjadi praktik baik dalam kehidupan masyarakat.
”Nilai-nilai lokal seperti budaya menjaga kebersihan, mengurangi sampah plastik, dan kehidupan sosial di taneyan lanjang perlu dikaji secara ilmiah agar memberi dampak luas bagi masyarakat,” pungkasnya. (afg/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti