PAMEKASAN, RadarMadura.id - DI tengah padatnya agenda sebagai bupati, KH Kholilurrahman tetap menyempatkan diri memperhatikan aktivitas Pondok Pesantren Matsaratul Huda (Matsda), Panempan, yang dipimpinnya.
Kesibukan sebagai kepala daerah tidak lantas membuatnya meninggalkan peran sebagai pengasuh yang selama ini jadi lahan perjuangan.
Kiai Kholil bahkan tetap aktif mengajar kitab secara langsung kepada para santri. Kehadirannya di ruang-ruang kepesantrenan menjadi bukti bahwa jabatan publik tidak menggeser tanggung jawab moral dan spiritualnya sebagai pendidik.
Sekaligus teladan bagi para santri dalam menyeimbangkan amanah kepemimpinan dan pengabdian keilmuan.
Baginya, kegiatan di dunia kepesantrenan dan kepemerintahan bukanlah dua kutub yang harus dipertentangkan.
Dunia birokrasi dan ruang pengasuhan santri justru sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan.
Bahkan, Kiai Kholil mendudukkan pengelolaan di pesantren dan pemerintahan memiliki nilai prioritas yang sama.
”Saya tetap mengajar santri. Termasuk, di bulan puasa ini, salat Tarawih dan tadarus bersama santri ponpes, meski tidak setiap malam,” ungkapnya.
Menurut Kiai Kholil, menyeimbangkan waktu antara pesantren dan pemerintahan memang bukan perkara mudah.
Namun, dia meyakini manajemen waktu yang tepat dan terukur akan membuat setiap beban tanggung jawab yang dijalani terasa lebih ringan. Sehingga, segala sesuatunya dapat ditunaikan secara maksimal.
”Semuanya prioritas. Pesantren prioritas utama, pemkab juga prioritas utama. Sehingga, dibutuhkan waktu yang seimbang dan terkelola dengan baik,” sebutnya.
Bahkan, orang nomor satu di Kota Gerbang Salam itu memandang integrasi antara kepesantrenan dan pemerintah dalam membangun Pamekasan sangat vital.
Pesantren berperan strategis dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM), sementara pemerintah menopangnya melalui infrastruktur dan kebijakan.
”Saya sering guyon, pesantren itu butuh tempat, wadahnya pesantren adalah kabupaten. Jadi pada prinsipnya, membangun pesantren tetap berjalan, tapi di sisi lain juga perlu dibangun wadahnya,” ujarnya.
Oleh karena itu, pesantren dan pemerintahan harus berjalan bersama-sama. Saling mengisi, melengkapi, dan menguatkan agar setiap tujuan membangun daerah dapat terwujud secara optimal.
Sinergi tersebut menjadi kunci menghadirkan kemajuan, baik dari sisi spiritual, sosial, maupun pembangunan fisik.
”Jadi kehadiran sosok guru dalam dunia pendidikan pesantren itu sangat penting. Makanya, sesibuk apa pun saya di pemerintahan, tetap menyempatkan diri untuk mendidik langsung para santri,” pungkasnya. (lil/han)
Editor : Amin Basiri