Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Jejak Panjang sang Wakil, Kiai Muchlis Nasir Nakhodai PCNU Pamekasan

Hera Marylia Damayanti • Rabu, 18 Februari 2026 | 08:24 WIB
BERKHIDMAT: Ketua PCNU Pamekasan KH Muchlis Nasir saat mengikuti konfercab di Ponpes Bustanul Ulum Sumber Anom, Minggu (15/2). (INSTAGRAM MEDIA NU PAMEKASAN)
BERKHIDMAT: Ketua PCNU Pamekasan KH Muchlis Nasir saat mengikuti konfercab di Ponpes Bustanul Ulum Sumber Anom, Minggu (15/2). (INSTAGRAM MEDIA NU PAMEKASAN)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Di sudut Kampung Aswaja Kembang 1, Desa Palengaan Dajah, jejak KH Muchlis Nasir tumbuh perlahan, namun pasti.

Lahir di Sampang, 7 Agustus 1981, dia bukan nama baru di lingkungan Nahdlatul Ulama Pamekasan.

Bertahun-tahun menjadi wakil, kini dia dipercaya menakhodai PCNU Pamekasan. Kiai Muchlis lahir dari keluarga besar NU yang lekat dengan tradisi pesantren. Ayahnya dikenal sebagai pengagum Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Garis keluarganya bersambung dengan tradisi keilmuan di Ponpes Miftahul Ulum Panyeppen.

Sejak kecil, nilai ahlusunah waljamaah sudah menjadi napas keseharian. ”NU bagi saya adalah ruang pengabdian, bukan sekadar organisasi,” tuturnya.

Pendidikan formalnya dimulai dari SDN Palengaan Laok 3 pada 1994, SMPN 1 Palengaan pada 1997, hingga MA Alkaromah pada 2003.

Dia melanjutkan studi ke UIN Sunan Ampel Surabaya dan meraih gelar sarjana pada 2009. Gelar magister diselesaikannya pada 2014.

Selain pendidikan kampus, Kiai Muchlis juga menimba ilmu di Ponpes Sidogiri Pasuruan.

Di pesantren itulah fondasi keilmuan dan kedisiplinannya semakin matang.

Tradisi salaf membentuknya tetap teguh memegang prinsip.

Aktivitas organisasinya dimulai dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Sunan Ampel Surabaya pada 2004.

Dari organisasi itu, Kiai Muchlis belajar tentang kepemimpinan, dialog, dan keteguhan sikap.

Pengalaman tersebut menjadi bekal penting saat kembali mengabdi di kampung halaman. Karier organisasinya di NU berjalan bertahap.

Pada 2016, dia dipercaya menjadi Ketua MWCNU Palengaan sekaligus Sekretaris Aswaja NU Center Pamekasan.

Pada 2021, Kiai Muchlis diamanahi menjadi Wakil Ketua PCNU Pamekasan. Sebagai wakil, dia dikenal tenang dan jarang tampil menonjol.

Namun, perannya strategis dalam mengawal program dan menjaga soliditas internal.

Ketika kepemimpinan PCNU mengalami kekosongan pada 2025, dia ditunjuk sebagai penjabat ketua menggantikan KH Taufik Hasyim.

Momentum itu menjadi titik penting dalam perjalanan panjangnya di organisasi Islam tersebut.

Dalam Konfercab PCNU Pamekasan di Ponpes Bustanul Ulum Sumber Anom, Minggu (15/2), dia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PCNU Pamekasan.

Dukungan bulat itu menegaskan kepercayaan penuh para kiai dan kader.

Amanah tersebut dia sambut dengan sikap tenang. Kiai Muchlis menyadari bahwa tantangan organisasi ke depan tidak ringan.

”Ini bukan soal jabatan, tapi tanggung jawab untuk menjaga khidmat NU,” tegasnya.

Dia menekankan pentingnya kemandirian organisasi.

Menurut Kiai Muchlis, PCNU Pamekasan harus kuat secara tata kelola dan pembiayaan.

Dengan kemandirian itu, NU tidak mudah terseret kepentingan sesaat.

Program yang disiapkannya fokus pada penguatan ekonomi jemaah dan pembenahan manajemen organisasi.

Dia juga memberi perhatian serius pada peningkatan kualitas kader, termasuk penguasaan teknologi di era digital.

”Kader NU harus unggul, tidak hanya dalam ilmu agama, tetapi juga melek teknologi dan memiliki keahlian profesional agar mampu berkhidmat di era digital. Dua hal itu akan menjadi arah program PCNU Pamekasan ke depan,” sambungnya.

Di tengah dinamika politik, Kiai Muchlis memilih untuk menjaga jarak dari politik praktis selama menjabat Ketua PCNU Pamekasan. Komitmen itu ditegaskan sebagai bagian dari integritas kepemimpinan.

Komitmen itu dituangkan dalam bentuk kontrak organisasi yang memiliki konsekuensi sanski tegas jika terjadi pelanggaran di masa depan.

”Jika melanggar kontrak itu, kami siap menerima sanksi berdasarkan ketentuan organisasi,” tukasnya. (afg/han)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#konfercab #Kiai Muchlis #nakhoda #ketua pcnu pamekasan #pengabdian #KH Muchlis Nasir #PCNU Pamekasan #Perjalanan