PAMEKASAN, RadarMadura.id – Ancaman bencana hidrometeorologi di Kabupaten Pamekasan tidak bisa diremehkan.
Sepanjang 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan mencatat ratusan peristiwa bencana terjadi di berbagai wilayah, mulai dari banjir hingga tanah longsor.
Berdasarkan data BPBD Pamekasan, total terdapat 419 peristiwa bencana yang terjadi sejak 1 Januari hingga 31 Desember 2025.
Meski jumlah tersebut menunjukkan tren penurunan dibanding tahun sebelumnya, kewaspadaan harus tetap ditingkatkan, terutama memasuki musim hujan.
Plt Kalaksa BPBD Pamekasan Akhmad Dhofir Rosidi mengatakan, ratusan kejadian itu diklasifikasikan dalam dua kategori besar. Yakni, bencana hidrometeorologi basah dan kering.
”Peristiwa bencana yang terjadi di Pamekasan meliputi banjir, kekeringan, tanah longsor, gempa bumi, hingga kebakaran,” katanya.
Dari 419 insiden tersebut, sebanyak 167 peristiwa merupakan bencana hidrometeorologi basah yang dipicu oleh cuaca ekstrem.
”Sementara bencana kategori kering justru mendominasi dengan total 221 peristiwa yang tersebar di berbagai kecamatan,” ulasnya.
Dhofir mengungkapkan, bencana justru banyak terjadi pada awal tahun. Sementara memasuki akhir tahun, kondisi relatif lebih landai.
”Bencana basah didominasi banjir dan tanah longsor, dengan wilayah terdampak tersebar dari utara hingga selatan Pamekasan,” ucapnya.
Khusus tanah longsor, lanjut dia, intensitas tertinggi tercatat berada di wilayah utara Pamekasan. Meski begitu, dampak bencana hidrometeorologi basah tidak hanya terpusat di satu zona.
”Wilayah terdampak tersebar di utara, tengah, hingga selatan Pamekasan,” tambahnya.
Dhofir menilai, penyebab bencana dalam dua tahun terakhir relatif konsisten.
Faktor alam dan aktivitas manusia sama-sama berkontribusi terhadap gangguan ekosistem, terutama di kawasan rawan yang berdekatan dengan permukiman warga.
”Sebagai langkah mitigasi, BPBD Pamekasan telah menyiagakan Posko Terpadu Hidrometeorologi sejak Desember 2025. Posko tersebut disiapkan untuk memastikan kesiapsiagaan personel serta ketersediaan logistik dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem awal 2026,” tuturnya.
Selain itu, BPBD Pamekasan juga menggencarkan sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat.
Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan evakuasi mandiri warga.
”Sehingga, dapat menekan risiko korban jiwa maupun kerugian materiel,” tandasnya. (afg/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti