PAMEKASAN, RadarMadura.id – UIN Madura menjadi panggung penyampaian pesan penting Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, Sabtu (29/11) malam. Integrasi antara sains, moral, dan spiritual ditekankan sebagai fondasi utama pendidikan tinggi Islam dalam kunjungan kerja tersebut.
Kiai Nasaruddin mengatakan, sumber pembelajaran di perguruan tinggi keagamaan Islam tidak boleh hanya bertumpu pada logika dan rasionalitas semata. Menurutnya, ilmu juga lahir dari dimensi intuisi dan kebeningan batin.
”Pengetahuan tidak hanya dari akumulasi akal. Ada sumber lain, yaitu intuisi. Cara mendapatkan pengetahuan langit adalah dengan penyucian batin. Jika diri kita ini suci dan bersih, maka ilmu akan proaktif masuk dalam batin,” ucapnya.
Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga menjelaskan, dalam tradisi Islam, ilmu tidak hanya berada di wilayah rasional, tetapi juga spiritual. Di perguruan tinggi Islam, kajian fisika tidak dilepaskan dari metafisika. Sehingga, sains dan nilai ketuhanan berjalan beriringan.
Dalam kunjungan itu, Kiai Nasaruddin juga meresmikan Gedung Rektorat UIN Madura dan Gedung Organisasi Mahasiswa (Ormawa). Dia mengapresiasi percepatan pembangunan kampus yang dinilai berjalan efektif serta berdampak langsung pada penguatan akademik.
Kiai Nasaruddin menekankan pentingnya menjaga lokalitas Madura sebagai identitas kampus. Kekayaan budaya Madura harus tetap melekat dalam pengembangan keilmuan.
”UIN Madura harus menjadi rujukan bagi siapa pun yang ingin mempelajari kebudayaan Madura secara akademik,” ingat Kiai Nasaruddin.
Sementara itu, Rektor UIN Madura Dr. H. Saiful Hadi, M.Pd menyatakan bahwa pengembangan kampus diarahkan pada penguatan tiga dimensi utama. Yakni, keislaman, budaya, dan penguasaan ilmu pengetahuan yang aplikatif.
Kampus juga menyiapkan inovasi di bidang teknologi ketahanan pangan serta penguatan sains bagi generasi Z. ”UIN Madura akan terus berupaya melahirkan program studi berbasis disiplin lain sesuai dengan regulasi yang ada. Kami ingin kampus ini benar-benar memberi dampak positif,” tegasnya.
Mantan Kaprodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) itu juga menyebut capaian transliterasi Al-Qur’an berbahasa Madura ke aksara carakan sebagai bentuk pemuliaan khazanah lokal. Keberhasilan kampus Taneyan Lanjang itu juga tercatat di dalam Museum Rekor Indonesia (Muri). (afg/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti