PAMEKASAN,RadarMadura.id - Rumput laut pernah menjadi salah satu komoditas unggulan perikanan budi daya di Pamekasan.
Hasilnya tidak hanya menopang ekonomi kawasan pesisir, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat.
Namun, kejayaan itu meredup. Enam tahun terakhir, aktivitas budi daya rumput laut lumpuh dan tak lagi memberi harapan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut dipicu oleh penurunan kualitas air laut yang makin sulit dikendalikan.
Perubahan lingkungan, sedimentasi, hingga pencemaran membuat bibit rumput laut gagal tumbuh optimal.
Para pembudi daya pun memilih menghentikan kegiatan budi daya karena hasil panen tidak lagi sebanding dengan biaya operasional dan tenaga yang dikeluarkan.
Enam tahun sudah, sejak 2019 akhir. Waktu itu memang ada swadaya di masyarakat dan bantuan dari dana desa, tapi gagal, kata Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Pamekasan Abdul Fata melalui Kabid Perikanan Budi Daya Luthfie Asyari.
Menurutnya, perairan di sejumlah wilayah pesisir Pamekasan saat ini kondisinya tidak stabil.
Kualitas air kerap berubah-ubah dan bahkan didapati bakteri vibrionya di atas ambang batas spesifik.
Angkanya mencapai 10 pangkat tujuh CFU/ml, sementara angka tertinggi maksimal 10 pangkat enam CFU/ml.
Sudah dua kali dilakukan ujib lab. Pertama tahun 2020, terakhir antara 2023 sampai 2024 yang difasilitasi oleh DKP Jatim untuk mengecek, dan hasilnya sama, tegasnya.
Luthfie mengeklaim, perubahan kualitas air untuk budi daya rumput laut diduga karena kondisi laut itu sendiri dan akibat pencemaran lingkungan dari limbah rumah tangga.
Hal ini yang menyebabkan minat kelompok pembudi daya rumput laut menurun akibat trauma gagal panen.
Ingin coba lagi satu dua tahun ke depan. Nanti kami ingin kerja sama dengan DKP Jatim untuk menguji kualitas air dulu sebelum uji budi daya lagi. Khawatir rugi lagi, ujarnya.
Dikonfirmasi di tempat terpisah, Zabur selaku kepala Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, membenarkan bahwa pesisir di wilayahnya pernah menjadi lokasi budi daya rumput laut.
Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi air tidak mendukung dan menyebabkan pembudi daya rugi.
Sudah lama vakum. Terakhir kali itu dilakukan percobaan tahun 2022, tapi gagal.
Padahal budi daya rumput laut berdampak besar bagi masyarakat. Sekali panen bisa mendapatkan penghasilan hingga jutaan rupiah, pungkasnya. (lil/yan)
Editor : Amin Basiri