PAMEKASAN, RadarMadura.id - Lonjakan kasus campak yang sempat membuat Pamekasan siaga tinggi mulai menunjukkan tanda mereda.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan mengeklaim tren suspek perlahan menurun seiring penguatan surveilans dan percepatan imunisasi di lapangan.
Kepala Dinkes Pamekasan Saifudin menegaskan, penurunan itu bukan terjadi begitu saja.
Jajarannya mengoptimalkan surveilans aktif dengan menyisir laporan dari puskesmas, memantau temuan gejala di permukiman, hingga mempercepat pelaporan berjenjang agar kasus baru cepat ditangani.
Meski demikian, persoalan dasar masih menjadi bayang-bayang mengkhawatirkan.
Sebab, cakupan imunisasi campak-rubella (MR) di Pamekasan belum mencapai target.
”Angkanya masih berada di kisaran 50-an persen, membuat banyak anak tetap berada dalam kategori rentan, sambungnya.
Selain itu, faktor gizi turut memperlemah daya tahan tubuh anak. Kondisi ini ditemukan di sejumlah desa dengan tingkat kerentanan tinggi.
Sehingga, setiap paparan virus campak lebih berpotensi berkembang menjadi kasus berat.
Saat tren kasus meningkat beberapa waktu lalu, Dinkes Pamekasan sampai menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) di 18 desa.
Kebijakan itu ditempuh agar penanganan lebih terfokus, termasuk percepatan imunisasi serta penelusuran kontak di wilayah dengan temuan kasus terbanyak.
”Sebagai langkah pengendalian, pemerintah daerah menggencarkan imunisasi tambahan bagi anak usia sembilam bulan hingga kurang dari tujuh tahun.
Program ini didukung berbagai pihak, termasuk UNICEF untuk mempercepat cakupan vaksinasi dan menutup celah penularan, sambungnya.
Kendati grafik kasus disebut menurun, Saifudin mengingatkan kewaspadaan tetap harus dijaga.
Dengan cakupan imunisasi yang masih rendah dan temuan suspek yang terus muncul, upaya pengendalian tidak boleh kendur agar situasi tidak kembali mengarah pada lonjakan baru. (afg/han)
Editor : Amin Basiri