PAMEKASAN, RadarMadura.id – Penebusan cukai yang dilakukan CV Jawara Internasional Djaya tahun ini melonjak signifikan. Perusahaan rokok yang berkantor di Pamekasan itu mencatat nilai tebusan mencapai Rp 98,6 miliar.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya menyentuh Rp 58,6 miliar. Kenaikan itu langsung berdampak pada porsi bantuan langsung tunai (BLT) dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) bagi pekerja perusahaan.
Sebanyak 366 buruh CV Jawara Internasional Djaya masuk daftar penerima BLT tahun ini. Jumlah itu meningkat cukup tajam dari 268 penerima pada tahun lalu. Mereka menjadi bagian dari 4.458 buruh rokok se-Pamekasan yang memperoleh bantuan masing-masing Rp 600 ribu.
Penambahan jumlah penerima di perusahaan itu menjadi bukti bahwa kenaikan penebusan cukai memberi efek langsung bagi kesejahteraan pekerja. Direktur CV Jawara Internasional Djaya Marsuto Alfianto menyatakan bahwa bantuan tersebut menjadi tambahan yang sangat membantu kebutuhan rumah tangga buruh.
Menurut dia, manfaat program DBHCHT harus dirasakan pekerja sebagai bagian dari kontribusi perusahaan kepada negara. Dia juga menyebut adanya rencana pemerintah untuk menaikkan besaran BLT menjadi Rp 1,5 juta per orang tahun depan.
”Peningkatan manfaat itu tidak hanya ditentukan oleh besaran tebusan cukai, tetapi juga oleh ketertiban administrasi perusahaan rokok. Tentu, saya mendorong perusahaan lain di Pamekasan untuk lebih disiplin melengkapi berkas, mencocokkan data pekerja, dan memastikan pelaporan penebusan cukai berjalan sesuai aturan,” ucapnya.
Ketidaktertiban administrasi bukan hanya menghambat alokasi bantuan, tetapi juga dapat memengaruhi persebaran manfaat DBHCHT di tingkat perusahaan. Dia menyebut bahwa industri rokok memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga akurasi data agar pekerja tidak dirugikan.
Respons positif muncul dari kalangan pekerja. Arifin, salah satu buruh CV Jawara Internasional Djaya mengaku bersyukur bisa bergabung dalam perusahaan yang tidak hanya berkontribusi besar pada negara, tetapi juga memberikan perhatian pada karyawan.
Menurut dia, manfaat BLT ini menjadi penopang tambahan ketika kebutuhan ekonomi keluarga semakin meningkat. ”Kenaikan penebusan cukai yang dilakukan perusahaan juga memberi harapan bagi buruh untuk mendapatkan ruang kesejahteraan yang lebih baik,” sambungnya.
Arifin menyebut bahwa meningkatnya kontribusi perusahaan pada negara harus selaras dengan meningkatnya perhatian terhadap pekerja. Baginya, dua hal tersebut tak bisa dipisahkan dalam menjaga keberlanjutan industri. ”Semoga perusahaan tetap memberi manfaat bagi negara dan karyawan,” tukasnya. (afg/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti