Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Momentum Hari Jadi Ke-495 Pamekasan Semangat Baru Membangun Pamekasan

Amin Basiri • Jumat, 7 November 2025 | 16:34 WIB
MERIAH: Bupati Pamekasan KH. Kholilurrahman memukul gong tanda dimulainya acara Semalam di Madura, Sabtu (1/11).
MERIAH: Bupati Pamekasan KH. Kholilurrahman memukul gong tanda dimulainya acara Semalam di Madura, Sabtu (1/11).

PAMEKASAN, RadarMadura.id– Hari Jadi Ke-495 Pamekasan menjadi momen reflektif bagi masyarakat Bumi Gerbang Salam.

Di usia yang hampir lima abad, Pamekasan tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga meneguhkan semangat baru untuk membangun masa depan dengan pijakan nilai-nilai lokal.

Dalam upacara peringatan di Lapangan Nagara Bhakti, Senin (3/11), Bupati KH. Kholilurrahman menegaskan bahwa peringatan hari jadi harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni.

Peringatan itu menjadi momen penting bagi masyarakat untuk mengenang perjalanan sejarah dan melestarikan budaya lokal.

Menurut Kiai Kholil, memahami sejarah bukan berarti terjebak di masa lalu, tetapi mengambil pelajaran berharga untuk melangkah ke depan.

”Hari jadi ini mengingatkan kita agar tidak melupakan sejarah. Di dalamnya banyak pelajaran yang bisa menjadi panduan bagi masa depan,” tegasnya.

Dia menambahkan, sejarah dan budaya adalah sumber kekuatan moral bagi masyarakat.

Karena itu, Pengasuh Pondok Pesantren Matsaratul Huda Panempan itu mengajak warga agar tidak kehilangan jati diri di tengah arus modernisasi.

“Bahasa dan budaya adalah fondasi peradaban yang harus kita rawat,” katanya.
Komitmen itu terlihat dari penggunaan bahasa Madura dalam upacara resmi hari jadi.

Pamekasan bahkan mendapat apresiasi dari pemerintah pusat sebagai salah satu dari sepuluh daerah di Indonesia yang konsisten melestarikan bahasa daerah.

Kiai Kholil percaya bahwa bahasa Madura adalah bagian dari identitas dan akar sejarah Pamekasan.

Akar sejarah itu sendiri berawal dari pengukuhan Pangeran Ronggosukowati sebagai raja pada 1530 Masehi.

Dari sana, nilai-nilai religius, kesantunan, dan kebersamaan tumbuh menjadi karakter masyarakat Pamekasan hingga kini.

Tradisi itu terus dijaga dan dirayakan melalui peringatan hari jadi setiap 3 November.

Sejak ditetapkan melalui Peraturan Daerah (Perda) 17/2004, peringatan Hari Jadi Pamekasan selalu mengusung tema yang menyesuaikan perkembangan zaman.

Tahun ini bertema “Pamekasan Maju dan Kreatif”, yang mencerminkan semangat untuk menumbuhkan daya saing tanpa meninggalkan budaya.

Rangkaian kegiatan hari jadi juga dirancang untuk melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Dimulai dengan Cardio Heart Night Fun Run pada Sabtu (11/10), kemudian upacara di Lapangan Nagara Bhakti, sidang paripurna di DPRD, serta Haul Pangeran Ronggosukowati di Pendopo Ronggosukowati.

Puncak perayaan akan ditutup dengan Pamekasan Ethno Vaganza pada Sabtu (29/11).

Seluruh kegiatan itu menjadi bukti bahwa masyarakat Pamekasan mampu menjaga semangat kebersamaan sekaligus menghidupkan nilai-nilai lokal di tengah modernitas.

Kiai Kholil memohon doa dan restu masyarakat agar diberi kekuatan dalam memimpin serta maaf atas segala kekhilafan.

”Peringatan ini bukan simbol masa lalu, melainkan cermin arah masa depan. Dari sejarah panjangnya, Pamekasan terus belajar, berbenah, dan melangkah lebih baik,” tandasnya. (afg/han)

Editor : Amin Basiri