PAMEKASAN, RadarMadura.id – JPRM menerima kabar duka meninggalnya mantan Kepala Diskop UKM Pamekasan EC Jhon Yulianto, Sabtu (1/11). Koran ini merasa kehilangan sosok yang selama ini sangat berkontribusi dalam distribusi koran di daerah Pamekasan. Selama 45 tahun almarhum mewariskan semangat dedikasi sebagai agen koran Jawa Pos Radar Madura (JPRM).
Dikutip dari RadarMadura.id, pria yang biasa disapa Pak Jon itu menjadi agen koran sejak 1980 dengan nama Yulianto seperti namanya. Kala itu, JPRM belum lahir sehingga yang dijajakan hanya koran Jawa Pos.
Pak Jon merupakan agen Jawa Pos ketiga di Madura. Dia membuka toko untuk menjual koran di Sampang, Bangkalan, dan Pamekasan. Saat menjadi agen koran, statusnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) hanya staf biasa sehingga dinilai perlu penghasilan tambahan untuk menghidupi keluarga.
Selama bertahun-tahun dia dikenal sebagai sosok yang tekun, disiplin, dan penuh tanggung jawab dalam menjalankan pekerjaannya sebagai agen koran. Hujan, panas, atau bahkan di hari libur, dia tetap mengantarkan koran hingga ke tangan pembaca tanpa keluh.
Pak Jon meninggal setelah kurang lebih empat tahun berjuang karena stroke. Jenazahnya dikebumikan di Pemakaman Asta Barat, Pamekasan, Minggu (2/11).
Yudha Putra Ramadhan, anak bungsu Pak Jon mengatakan, sudah puluhan tahun ayah tercintanya menjadi agen JPRM. ”Seingat saya, sejak saya menginjak SD, ayah sudah menjadi agen,” kata Yudha saat ditemui di kediamannya.
Menurut Yudha, ayahnya bukan sekadar menjadi agen, akan tetapi juga pembaca setia Jawa Pos Radar Madura. Saat kondisinya sehat, hampir setiap pagi dirinya menyaksikan ayahnya membaca koran sebelum berangkat kerja.
Kebiasaan membaca ayah tiga orang anak itu merupakan bagian dari mendidik literasi di lingkungan keluarga. ”Kalaupun tidak sempat (membaca koran, Red), koran itu pasti dibawa ke tempat kerjanya,” tuturnya.
Yudha menceritakan, ketika bepergian ke Surabaya bersama keluarga, ayahnya tidak lupa selalu membeli koran di perempatan jalan. ”Saya selalu ingat itu. Ayah selalu beli koran di lampu merah untuk mencari dan update informasi. Sebelum sakit, empat tahun lalu, ayah masih sering membaca koran,” kenangnya.
Pak Jon dikenal dekat dengan para loper koran yang bertugas mengantar koran kepada pelanggan. Dulu ada sekitar empat hingga lima loper, sekarang tinggal tiga loper. ”Cerita ayah dan ibu, dulu ayah ngambil (koran) sendiri ke Surabaya. Berangkat malam, pagi selesai packing langsung balik ke Pamekasan,” ucapnya.
Yudha mengenal ayanya sebagai sosok yang sangat bijak. Tidak pernah memanjakan anak-anaknya, namun selalu ada ketika buah hatinya membutuhkannya. Yudha merasa masih membutuhkan kehadiran sosok ayahnya, namun takdir berkata lain.
”Kegiatan ayah membaca koran setiap pagi di rumah, kala masih sehat, itu bagian dari pendidikan literasi kepada keluarga,” pungkasnya. (lil/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti