Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Eksplorasi Tembakau Madura (6): Masa Panen Selalu Bikin Waswas

Hera Marylia Damayanti • Kamis, 23 Oktober 2025 | 17:16 WIB
TERIK: Petani tembakau di Desa Klompang Timur, Kecamatan Pakong, Pamekasan, menyunggi tembakau, Jumat (29/8). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
TERIK: Petani tembakau di Desa Klompang Timur, Kecamatan Pakong, Pamekasan, menyunggi tembakau, Jumat (29/8). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Matahari musim kemarau menjadi sahabat sekaligus saksi. Di bawah teriknya, petani memanen tembakau dengan penuh harapan. Namun, di sela-sela rajangan daun dan tikar yang dijemur, mereka juga sibuk berhitung.

Setiap kilogram tembakau yang dikeringkan, berarti ada ongkos tambahan yang harus ditanggung petani. Masa panen adalah masa paling sibuk sekaligus menguras biaya. Daun emas berumur tiga sampai empat bulan sudah siap untuk dipetik, dirajang, dan dijemur.

Salah satu petani tembakau di Desa Palengaan Daya, Kecamatan Palengaan, Monhari mengakui bahwa biaya paling menonjol terletak pada proses rajang. Jika menggunakan mesin perajang, pemilik mematok sewa rata-rata sebesar Rp 2 ribu per kilogram.

”Belum lagi biaya untuk membeli bidhik atau wadah penjemur yang berkisar Rp 8–10 ribu per satuan. Jumlahnya disesuaikan banyaknya tembakau yang dipanen. Kalau musim lalu masih bisa dipakai, maka tidak perlu untuk membeli lagi,” sambungnya.

Meski begitu, kebutuhan lain seperti tikar tembakau tetap harus dibeli. Harganya rata-rata mencapai Rp 60 ribu per lembar. Jika tidak disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya, maka biasanya biaya bisa membengkak. Pedagang tikar memanfaatkan kebutuhan tersebut.

 Semua pengeluaran itu harus ditutup dari hasil panen yang belum tentu sebanding dengan harga pasar. Hal itu dirasakan Hafi, petani di Desa Klompang Timur, Kecamatan Pakong. Menurut dia, masa panen selalu menjadi fase krusial. Cuaca hingga harga jual tembakau kerap menjadi penentu untung-rugi. 

”Petani hanya bisa berharap harga di tingkat tengkulak tidak anjlok. Kalau sudah dihargai murah di awal, maka hasil yang didapat tak seberapa. Bahkan, bisa saja rugi. Cuaca yang tak menentu dijadikan kesempatan agar tembakau dibeli murah,” ungkapnya.

Tahun ini, biaya pokok produksi (BPP) tembakau meningkat. Untuk kategori sawah naik menjadi Rp 47.685 dari sebelumnya Rp 46.725. Kategori tegal menjadi Rp 53.533 dari Rp 52.639, dan tembakau gunung ditetapkan Rp 64.000 dari sebelumnya Rp 63.233.

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pamekasan Indah Kurnia Sulistiorini mengatakan, kenaikan itu adalah hasil kesepakatan antara pemerintah, petani, dan pengusaha. Tentu, sesuai dengan naiknya biaya operasional dan sarana produksi. 

”Harapannya, petani bisa menikmati hasil yang lebih layak dan juga pengusaha tetap memperoleh margin wajar,” katanya. Namun di lapangan, BPP itu kerap hanya menjadi angka. Masih ada sebagian pedagang yang membeli di bawah harga kesepakatan. 

Meski begitu, semangat petani tembakau di Bumi Gerbang Salam masih tetap menyala. Bagi mereka, setiap helai daun emas yang dijemur bukan sekadar komoditas belaka, melainkan hasil kerja keras yang terus mereka perjuangkan dari musim ke musim. (afg/han)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#petani tembakau #rajang #biaya pokok produksi #Musim kemarau #dkpp #memanen tembakau #Desa Palengaan Daya #biaya