PAMEKASAN, RadarMadura.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pamekasan kembali menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tahun ini. Kegiatan yang dipusatkan di Aula Kantor PKG, Senin (29/9), itu diikuti puluhan siswa dari berbagai kecamatan se-Pamekasan.
Kabid Pembinaan SD Disdikbud Pamekasan, Taufik Hidayat, menyampaikan FTBI merupakan bagian dari program revitalisasi bahasa daerah (RTD) yang digelar hampir setiap tahun. Tujuannya, untuk menjaga dan melestarikan bahasa ibu agar tetap hidup di tengah generasi muda.
Menurutnya, seleksi peserta FTBI dilakukan secara berjenjang. Dimulai dari tingkat sekolah, lalu berlanjut ke tingkat kecamatan, hingga akhirnya siswa terbaik dikirim untuk mewakili kecamatan pada tingkat kabupaten.
“Seleksi tingkat sekolah ini berjenjang sebelum dikirim ke tingkat kabupaten. Setiap kecamatan mengirim tujuh siswa sesuai mata lomba yang ditentukan,” terangnya.
Baca Juga: Revitalisasi Bahasa Madura Kembali Bergulir, Bimtek Guru Master Hadirkan Tujuh Maestro
Pada pelaksanaan tingkat kabupaten kali ini, sebanyak 91 siswa ikut berpartisipasi. Mereka merupakan delegasi dari 13 kecamatan di Pamekasan. Setiap kecamatan mengirimkan tujuh siswa sesuai cabang lomba yang dilaksanakan.
Adapun mata lomba yang digelar dalam FTBI meliputi pidato, mendongeng, caraka Madura, cerita pendek, puisi, lawa’ nunggal, dan tembang (temphang). Ragam lomba ini dirancang untuk melatih siswa mengekspresikan diri dengan menggunakan bahasa Madura secara kreatif.
“Juara satu dari masing-masing lomba tingkat kabupaten nantinya akan dikirim untuk mengikuti ajang tingkat provinsi. Jadi, Pamekasan akan mengirim tujuh siswa terbaik sesuai cabang lomba,” jelas Taufik.
Lebih lanjut ia menuturkan, FTBI bukan hanya sekadar ajang lomba tahunan. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana pembinaan bagi siswa agar lebih mengenal, memahami, dan mencintai bahasa daerahnya sejak dini.
“InsyaAllah, di awal November mereka akan bertanding di tingkat provinsi. Harapannya, siswa-siswa kita bisa membawa prestasi dan mengharumkan nama daerah,” tambahnya.
Taufik menegaskan, melalui festival tersebut, siswa tidak hanya dipacu untuk melestarikan bahasa ibu, tetapi juga memperoleh nilai tambah berupa prestasi akademik maupun nonakademik.
Selain itu, FTBI menjadi salah satu strategi agar bahasa Madura tidak hanya sebatas jargon pelestarian, melainkan benar-benar dihayati dalam kehidupan sehari-hari.
“Festival ini menjadi media agar bahasa Madura tidak sekadar slogan. Harapannya, siswa bisa bangga berbahasa Madura di manapun mereka berada, baik di Madura maupun di luar Madura,” ungkapnya.
Ia menilai, jika sejak dini siswa sudah dibiasakan menggunakan bahasa Madura dalam konteks yang kreatif, maka warisan budaya daerah akan lebih mudah terjaga keberlanjutannya.
Disdikbud Pamekasan berharap, kegiatan seperti FTBI bisa terus berlangsung secara konsisten setiap tahun. Dengan begitu, upaya pelestarian bahasa ibu dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pendidikan siswa.
“Bahasa daerah adalah identitas yang harus kita rawat bersama. Melalui festival ini, generasi muda bisa belajar mencintai warisan leluhur sekaligus menorehkan prestasi,” pungkasnya. (ay/dry)
Editor : Hendriyanto