PAMEKASAN, RadarMadura.id – Kasus keracunan massal siswa TK Al Falah Tlanakan masih menggantung. Hasil uji laboratorium forensik (labfor) Polda Jawa Timur belum juga keluar. Padahal, kepastian itu akan menentukan arah penyelidikan polisi.
Kasihumas Polres Pamekasan AKP Jupriadi mengaku telah mengamankan sampel menu makanan yang diproduksi SPPG Larangan Tokol. Sampel itu dikirim ke Polda Jatim untuk dilakukan uji kandungan. Namun, dia tidak tahu pasti kapan hasil uji laboratorium tersebut keluar.
Hasil uji labfor itu bisa menjadi dasar bagi polisi untuk menentukan apakah menu makanan bergizi gratis (MBG) itu menjadi penyebab keracunan massal belasan siswa atau tidak. Jika terbukti, maka jerat hukum dipastikan menanti.
Praktisi Hukum Pamekasan Ach. Dlofirul Anam menyatakan, kasus yang menimbulkan banyak korban itu tidak bisa dianggap sepele. Dia menyebut, ada tabir lemahnya pengawasan dalam program MBG yang harus dibuka secara terang benderang oleh polisi.
”Kejadian ini bukan hanya sekadar insiden teknis biasa. Ada potensi pelanggaran serius yang harus diusut agar korban mendapatkan keadilan dalam kasus ini,” ujarnya.
Sedikitnya ada tiga potensi pelanggaran yang bisa menjerat pengelola MBG. Mulai dari pelanggaran administrasi, pidana, hingga perdata. Jika ditemukan kelalaian dalam pengadaan atau distribusi hingga menimbulkan kerugian, sanksi hukum bisa dijatuhkan.
Dlofir juga menyinggung bahwa Undang-Undang (UU) Pangan mewajibkan penyedia makanan menjamin keamanan, mutu, dan gizi. Sementara UU tentang Perlindungan Konsumen menegaskan hak masyarakat untuk memperoleh makanan yang aman.
”Kalau aturan ini dilanggar, tentu pasti ada konsekuensi hukum yang menanti pengelola atau penanggung jawab. Ancaman pidana bisa sampai lima tahun penjara. Selain itu, ada pula sanksi ganti rugi bagi korban,” papar Dlofir pada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Minggu (14/9).
Sekadar diketahui, insiden keracunan massal yang terjadi pada Selasa (9/9) masih menyisakan trauma. Sebanyak 12 siswa TK Al Falah Tlanakan mengeluh sakit setelah mengonsumsi MBG dari salah satu dapur. Mereka mengeluh pusing, muntah, lemas, hingga demam.
Beberapa siswa lain di yayasan yang sama serta guru juga ikut terdampak. Korban sempat ditangani di Puskesmas Tlanakan. Beberapa di antaranya harus dirujuk ke RSUD dr H Slamet Martodirdjo (Smart) Pamekasan lantaran fasilitas kesehatan (faskes) tak cukup menampung korban. (afg/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti