PAMEKASAN, RadarMadura.id – Ancaman penyakit campak di Kabupaten Pamekasan kian serius. Hingga Kamis (11/9), sebanyak 532 anak berstatus suspek campak. Lima di antaranya dilaporkan meninggal dunia. Kondisi itu membuat Pamekasan mendekati status kejadian luar biasa (KLB).
Situasi tersebut memantik perhatian dunia internasional. Unicef turun tangan dengan menargetkan lebih dari 58 ribu anak usia 9 bulan hingga 7 tahun di Pamekasan untuk mendapatkan imunisasi campak. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kekebalan tubuh anak dan mencegah penularan meluas.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Jawa Timur Sulvy Angraeni menyebut, imunisasi menjadi kunci pengendalian kasus campak. Apalagi, dari lima anak yang meninggal akibat penyakit tersebut, empat di antaranya belum pernah mendapatkan imunisasi.
”Imunisasi ini menyasar anak-anak rentan, baik yang belum lengkap maupun yang sama sekali belum diimunisasi. Harapannya, kekebalan tubuh anak meningkat sehingga risiko kematian bisa ditekan,” jelas Sulvy.
Selain imunisasi massal, jajaran kesehatan di Pamekasan juga menjalankan surveilans aktif. Melalui pemantauan dan pelaporan berjenjang, kasus bisa lebih cepat terdeteksi sehingga penanganan dapat segera dilakukan. ”Surveilans yang baik membuat kita bisa bergerak cepat sebelum kasus makin meluas,” lanjut Sulvy.
Sekadar diketahui, campak dikenal sebagai penyakit dengan tingkat penularan tinggi. Satu kasus bisa menulari 12 hingga 18 orang melalui droplet saat batuk atau bersin. Kebiasaan masyarakat yang gemar berkumpul juga memperbesar peluang penularan.
Karena itu, penguatan imunisasi dan surveilans aktif dipandang mutlak. ”Kalau dua hal ini dijalankan maksimal, maka kasus campak bisa dikendalikan dan angka kematian dapat dicegah,” tegas Sulvy.
Health Specialist Unicef Wilayah Jawa Timur, Indonesia, Armunanto menegaskan bahwa peningkatan kasus campak di sejumlah daerah, termasuk Pamekasan, tidak bisa hanya ditangani oleh dinas kesehatan. Menurutnya, keterlibatan lintas sektor menjadi kebutuhan mendesak untuk menekan laju penularan dan mencegah kematian anak.
”Masalah kesehatan masyarakat, termasuk campak, harus dihadapi bersama. Tidak mungkin hanya diselesaikan oleh dinas kesehatan,” ujarnya. Armunanto menambahkan, peningkatan kasus campak saat ini juga terjadi di sejumlah provinsi lain. Di Madura, yakni Kabupaten Sumenep, tercatat sebagai daerah dengan kasus terbanyak.
Karena itu, Unicef bersama pemerintah daerah berkomitmen mendukung penuh langkah-langkah penanggulangan campak di Pamekasan. Dengan harapan, jumlah kasus dari salah satu penyakit menular tersebut bisa diminimalkan. (afg/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti