PAMEKASAN, RadarMadura.id – BPBD Pamekasan sedang mendata daerah terdampak kekeringan. Diprediksi, desa yang terdampak kekeringan berkurang jika dibandingkan tahun lalu.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Pamekasan Akhmad Dhofir menyampaikan, pihaknya masih melakukan verifikasi lapangan. Khususnya desa atau dusun yang terdampak kekeringan. ”Nanti datanya kami sandingkan dengan tahun lalu yang berpotensi tidak membutuhkan bantuan,” katanya Rabu (10/9).
BPBD menerima pengajuan daerah terdampak kekeringan sebanyak 332 dusun dari 84 desa. Setelah diverifikasi, ada 247 dusun dari 76 desa yang berpotensi membutuhkan bantuan air bersih.
”Kami targetkan (datanya) minggu ini selesai dan minggu depan sudah rampung untuk kami usulkan penerbitan SK,” ungkapnya.
Menurutnya, berkurangnya jumlah dusun yang terdampak kekeringan disebabkan kemarau basah. Selain itu, masyarakat banyak yang memiliki sumur bor sendiri. Dia mencontohkan, Desa Laden tidak masuk dalam daftar sasaran dropping air bersih karena dinilai tidak layak.
”Tahun lalu kolektif, sedangkan tahun ini tidak semua wilayah mengalami kekeringan. Tapi tidak menutup kemungkinan ada tambahan,” ucapnya.
Meski demikian, dropping air bersih bagi desa yang membutuhkan air sudah berjalan. Seperti di Desa Polagan dan di Kecamatan Palengaan. Sebab, desa tersebut sangat membutuhkan bantuan air bersih. ”Desa ini setiap tahun terdampak kekeringan,” ucapnya.
Camat Pegantenan Abdul Munif menyatakan, permintaan air bersih dari desa belum masif. Jika mengacu tahun lalu, ada empat desa yang sangat butuh bantuan air. Yakni desa Palesangger, Ambender, Tanjung, dan Pasanggar.
”Biasanya jika butuh air, warga mendaftar ke kecamatan mengajukan bantuan air. Sementara ini belum ada,” tandasnya. (ay/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti