PAMEKASAN, RadarMadura.id – Angin musim kemarau membawa aroma khas daun tembakau kering. Geliat panen daun emas Pamekasan mulai terlihat. Puncak panen diprediksi akan terjadi pada pertengahan bulan Agustus hingga September.
Tetapi, di balik semangat petani dalam memproduksi daun emas, terselip kekhawatiran yang mengendap.
Mereka khawatir daun emas yang ditanam tidak laku. Sebab, stoknya masih cukup melimpah.
”Di tengah situasi sulit seperti ini, petani tidak boleh dibiarkan sendirian menghadapi musim panen tembakau. Kita harus hadir bersama mereka,” ujar Ketua Paguyuban Pelopor Petani dan Pedagang Tembakau Madura (P4TM) Khairul Umam.
Keberadaan stok tembakau yang melimpah di gudang-gudang pabrik rokok menjadi ancaman tersendiri bagi petani. Pihaknya mengajak pengusaha tembakau untuk ikut turun tangan.
Yakni, dengan menyerap hasil panen sebanyak mungkin agar tidak ada daun emas yang terbuang sia-sia.
”Kalau kita saling bergandeng tangan, sebanyak apa pun stok pasti bisa terserap. Jangan biarkan petani rugi hanya karena soal gudang. Mari kita tunjukkan bahwa kita juga ikut menghargai jerih payah petani,” tegas pria yang karib disapa Haji Her itu.
Pamekasan tidak hanya menyuguhkan kualitas daun tembakau yang prima. Tetapi, juga menggambarkan denyut ekonomi masyarakat.
Pada setiap helai daun tembakau tersimpan peluh keringat, harapan, dan keberlangsungan hidup ribuan kepala keluarga.
Haji Her juga mengingatkan, keberhasilan panen bukan hanya diukur dari berapa banyak daun yang dikeringkan.
Tetapi, juga dari seberapa besar kepastian bahwa hasil kerja keras para petani tembakau akan dihargai secara layak.
”Panen ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi napas ekonomi Madura. Harus ada komitmen bersama, dari petani, pengusaha, hingga pemerintah, untuk menjaga harga dan daya serap yang maksimal. Sehingga, tidak ada yang dirugikan,” tukasnya. (afg/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti