Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Alami Trauma Pasca Disunat, Anak Empat Tahun Diduga Jadi Korban Malapraktik di Kabupaten Pamekasan

Amin Basiri • Selasa, 22 Juli 2025 | 15:05 WIB
ilsutasi klinik sunat
ilsutasi klinik sunat

PAMEKASAN, RadarMadura.id – AR, 30, mengaku menyesal menyunat putranya di Rumah Praktik Mandiri Perawat (PMP) Desa Bangkes, Kecamatan Kadur, Pamekasan.

Putranya, A (inisial), diduga jadi korban malapraktik khitan. Bahkan, anak berusia empat tahun itu mengalami trauma pasca disunat.

AR menceritakan, peristiwa itu bermula saat dirinya mengundang pemilik PMP Ahmad Zubairi ke rumahnya, Rabu (2/7). Zubairi datang bersama dua anak magang mahasiswa Keperawatan Poltera.

”Saya mulai cemas karena kondisi ring yang dipasang tidak sesuai prosedural dan prosesnya lama, tidak seperti pada umumnya yang hanya 15 menit,” katanya kemarin (21/7).

Pemasangan ring tersebut diduga tidak prosedural karena tidak tepat. Pasalnya, ring yang semestinya ditempatkan di ujung alat vital malah dipangkal alat vital. Kesalahan itu menjadi awal mula dugaan malapraktik tersebut.

”Sepertinya tidak sesuai SOP sehingga menyebabkan lukanya luar biasa dan membuat anak saya trauma,” tuturnya.

Pasca sunat, kondisi A belum membaik. Bahkan, ketika pemasangan ring dibuka oleh perawat dan Zubairi, malah menyebabkan luka baru. Seperti luka bakar. Ring yang dipasang di pangkal menyebabkan susah untuk dibuka.

”Seperti cincin yang kekecilan di jari dan prosesnya menyakitkan saat dibuka,” ucapnya.
Menurutnya, kondisi anaknya mulai membaik pasca diobati. Namun, trauma anknya tidak hilang.

Dia menyebut, anaknya mengalami trauma berat. ”Alhamdulillah luka anak saya mulai membaik, tapi trauma saat orang datang dan sering mengigau saat tidur karena ketakutan,” harapnya.

Pemilik Rumah PMP Ahmad Zubairi membantahnya. Dia menegaskan bahwa praktik khitan yang dilakukan sesuai prosedur. Bahkan, dua perawat yang mengeksekusi A sudah memiliki sertifikat kompeten untuk melakukan sunat.

”Setelah sunat, tidak akan langsung sembuh. Di praktik kami, tidak ada anak magang. Mereka lulusan ners dan prosesnya saat itu saya dampingi sehingga sudah sesuai standar sunat ring,” tegasnya.

Masalah tersebut mendapat respon dari Plt Kabid Pencegahan dan Pengandalian Penyakit Dinkes Pamekasan Avira Sulistyowati.

Namun, dia belum bisa memberikan komentar banyak. Sebab, masih menungu hasil rapat koordinasi. ”Nunggu hasil rapat dulu ya,” tukasnya. (ay/bil)

Editor : Amin Basiri
#pamekasan #malapraktik #sunat