PAMEKASAN, RadarMadura.id – Hari Raya Idul Adha selalu membawa berkah tersendiri bagi sebagian masyarakat.
Terutama, bagi mereka yang menggeluti bisnis hewan kurban. Permintaan akan sapi, kambing, dan domba meningkat signifikan.
Beternak hewan membuka peluang usaha yang menjanjikan. Namun, kesuksesan dalam bisnis tersebut tidak datang dengan sendirinya.
Persiapan matang dan pemahaman yang baik mengenai perawatan hewan menjadi kunci utama untuk menghasilkan rupiah.
Salah satu peternakan yang sukses dalam mengelola hewan ternak adalah Katandur Farm.
Pemiliknya, Abbas Muhammad Rofi’i atau Lora Abbas dan Abdul Aziz Muhammad Rofi’i atau Lora Izzu. Mereka adalah keluarga pesantren besar di Pamekasan.
Mereka berdua memang memiliki hobi beternak sejak remaja. Keluarga besar juga mendukung Lora Abbas dan Lora Izzu untuk membuka bisnis kemandirian.
Lalu, peternakan yang terletak di Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, itu mulai dirintis pada 2021.
Saat itu, hanya ada enam sapi yang berada di Katandur Farm. Jumlah itu kian bertambah seiring dengan perkembangan peternakan.
Totalnya, ada 53 sapi yang dikelola oleh kakak beradik tersebut. Namun, hasil itu diakui tidak didapatkan secara mudah.
”Selain menyiapkan modal, mental juga perlu disiapkan dengan baik. Selain memang belum memiliki pelanggan tetap, kami juga kesulitan memilih bibit hingga merugi ratusan juta. Namun, kami terus belajar kepada teman-teman lainnya,” ujar Lora Abbas.
Lora Abbas dan Lora Izzu terus berjuang untuk menstabilkan peternakan. Mulai dari segi perawatan hewan ternak hingga memastikan harga dapat bersaing dengan peternakan lain.
Apalagi, Pamekasan sempat diserang wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).
”Beberapa hewan ternak kami memang sakit. Tetapi, kadarullah tidak sampai mati. Selain memastikan pakan sapi yang ideal, kami juga sangat memperhatikan kebersihan hewan ternak dan kandang. Sehingga, bisa mendapat kepercayaan pelanggan,” ulasnya.
Menurut Lora Abbas, Katandur Farm butuh waktu sekitar dua tahun agar bisa stabil dalam berbisnis hewan ternak.
Setidaknya, sudah ada beberapa jenis sapi yang berhasil diternakkan. Mulai dari jenis limousin, simmental, brangus, hingga jenis sapi lokal Madura.
Lora Abbas dan Lora Izzu memiliki dua cara dalam beternak hewan. Pertama, melalui jalur bumi seperti menjaga fisik hewan dengan diajak berlari mengitari lokasi peternakan.
Hal itu dipercaya mampu menjaga kualitas daging. Termasuk, memberi ramuan khusus.
Selain itu, para penjaga ternak juga rutin memandikan setiap hewan ternak. Kandang-kandang yang ditempati sapi itu juga tak luput untuk dibersihkan.
Sebagai insan pesantren, Katandur Farm memegang prinsip bahwa kebersihan adalah bagian dari iman.
”Sementara, untuk jalur langitnya dengan memutar murottal atau bacaan ayat Al-Qur’an, salawat, hingga kajian-kajian kitab kuning. Kami percaya bahwa upaya ini bisa menjaga dan membuat tenang jiwa hewan ternak yang ada di Katandur Farm,” imbuhnya.
Doa para santri, kata Lora Abbas, juga masuk dalam jalur langit. Sebagian hasil ternak memang diinfakkan kepada santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hamidy Banyuanyar.
Jika dikalkulasi, total 50 persen hasil usaha dihibahkan untuk kemaslahatan santri. (afg/luq)
Editor : Hera Marylia Damayanti