PAMEKASAN, RadarMadura.id – Alih status kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Madura disambut penuh sukacita.
Itu terlihat saat civitas academica UIN Madura menggelar doa bersama dan pemotongan tumpeng, Rabu (28/5).
Rektor UIN Madura Dr. Saiful Hadi, M.Pd. menyatakan, alih status kampus menjadi tantangan ke depan.
Di sisi lain, hal ini dijadikan motivasi untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, berkarakter, dan memiliki nilai-nilai keagamaan guna menjadikan peradaban lebih baik.
”Tentu kami ingin membawa perubahan terhadap pembangunan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Saiful menyampaikan, kehadiran UIN Madura akan membawa perubahan terhadap instrumen kehidupan masyarakat.
Mulai peningkatan aspek sosial, ekonomi, hingga pendidikan di sekitar kampus Islam negeri tersebut.
Kampus akan mengikuti regulasi yang berkaitan dengan transformasi institut menjadi universitas.
Dia memastikan momentum tersebut akan dimanfaatkan untuk internasionalisasi UIN Madura.
”Kami sedang menyusun rencana strategis (renstra) 2025–2029 yang akan menjadi titik tumpu dan pedoman pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ucap pria alumnus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Madura itu.
Saiful menambahkan, UIN Madura juga akan mempercepat penambahan studi keilmuan baru untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Di antaranya, akan dibuka program studi teknik informatika dan teknologi informasi.
”Kami punya SDM itu. Tidak mungkin kami mengajukan prodi tanpa memiliki SDM di dua rumpun tersebut. Saat ini prosesnya sedang submit. Mudah-mudahan ini tidak terlalu lama, doanya saja,” imbuhnya.
Rektor Saiful juga menjelaskan latar belakang penetapan nama UIN Madura.
Menurutnya, nama tersebut dikaitkan dengan pulau yang mencakup empat wilayah di Pulau Garam. Yakni Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.
”Nama Madura sudah melekat di mana-mana. Madura sudah dikenal luas, bahkan ke luar negeri. Pemilihan nama Madura sudah melekat di masyarakat Madura itu sendiri dan masyarakat Nusantara yang ada di Indonesia,” ungkapnya.
Ketua Senat UIN Madura Dr. Achmad Muhlis, M.A menegaskan, alih status perguruan tinggi tersebut merupakan buah dari perjuangan panjang.
Tanggung jawab besar juga menanti usai transformasi kampus itu.
”Saya tidak bisa berkata apa-apa. Sebagai Senat UIN Madura, kapan pun dibutuhkan, kami siap 24 jam, terutama dalam pengembangan akademik. Kami mendorong dan mendukung apa yang menjadi kebutuhan kampus,” tegasnya.
Beralihnya IAIN Madura menjadi UIN Madura juga diharapkan mampu mendongkrak jumlah mahasiswa.
Minat masyarakat semakin meningkat untuk menimba ilmu di kampus yang terletak di Jalan Raya Panglegur, Pamekasan, itu. (afg/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti