PAMEKASAN, RadarMadura.id – Kaus lengan panjang dan celana pendek tak bisa menyembunyikan guratan usia Tarimu. Namun, kepiawaiannya dalam berlayar tak bisa dibandingkan dengan pemuda lain.
Selama terombang-ambing di tengah laut, Tarimu hampir tak pernah jatuh sakit. Padahal, tidak ada makanan yang bisa dia konsumsi selain rintik air hujan yang dia tadahkan menggunakan ember kecil di atas perahu miliknya.
”Soal usia, mungkin saya kalah. Namun, kalau soal kekuatan berlayar, mungkin saya bisa adu dengan nelayan yang masih muda. Saya pernah terdampar di Kepulauan Sulawesi tanpa persediaan apa pun,” ujarnya.
Toha, anak kedua Tarimu mengungkapkan, ayahnya rajin mengonsumsi jamu tradisional. Seperti campuran lengkuas, temulawak, dan jahe. Racikan minuman tersebut diseduh dengan tambahan telur ayam Madura dan madu.
”Itu diparut, terus ampasnya dijadikan semacam dodol. Khasiatnya untuk daya tahan tubuh dan bikin hangat. Jadi, meski terombang-ambing di laut dengan cuaca dingin, masih bisa bertahan. Itu kuncinya,” ujar Toha.
Di sisi lain, Toha tidak ingin ayahnya pergi melaut kembali. Namun, keadaan memaksa keluarga mereka untuk bekerja dengan keras. Dia selalu mendoakan Tarimu agar bisa diberi kesehatan dan keselamatan. (afg/bil)
Editor : Achmad Andrian F