PAMEKASAN, RadarMadura.id – Abdul Jalil sudah setahun lebih menekuni usaha tomat. Ayah lima anak itu memilih bercocok tanam dengan menanam buah dengan nama latin solanum lycopersicum itu di waktu senggang.
Dengan lahan seluas 10x15 meter, Jalil memberanikan diri untuk berbisnis tanaman yang sering kali dianggap sayur mayur itu.
Modal awal yang harus ia siapkan juga cukup terjangkau. Harga bibit tak semahal buah-buahan yang lainnya.
”Saya hanya beli bibit setengah ons saja. Harganya cukup Rp 80 ribu. Saya membeli sedikit lantaran lahan yang disiapkan juga tidak begitu luas.” kata Jalil saat ditemui di rumahnya di Desa Bangkes, Kecamatan Kadur, Pamekasan, Jumat (11/4).
Selain menyediakan bibit, Jalil juga harus menyiapkan obat pembasmi hama. Ulat-ulat kecil biasanya sering menghinggapi dedaunan.
Terutama saat menjelang masa panen. Jika terus dibiarkan, akan mengganggu kualitas tomat.
”Memang harus rajin untuk dibersihkan. Kemudian, juga diberi obat hama agar tidak merambat ke daun-daun yang lainnya. Jika tidak keliru menghitung, total modal yang harus saya siapkan tidak sampai Rp 500 ribu,” sambungnya.
Jika mujur, Jalil bisa meraup keuntungan berkali lipat. Dalam satu musim, dia mampu memanen tomat 6–7 kali.
Jika diuangkan, total uang yang ia dapat berkisar Rp 1,7 juta. Tetapi, semua itu bergantung dari harga jual tomat di pasaran.
”Untuk satu kilogram tomat rata-rata dihargai Rp 8 ribu. Kalau harganya lagi tinggi, bisa mencapai Rp 14 ribu untuk satu kilogram tomat. Namun, kalau harga lagi rendah, bisa berkisar di harga Rp 5 ribu–Rp 6 ribu per kilogram,” ungkapnya. (afg/luq)
Editor : Achmad Andrian F