PAMEKASAN, RadarMadura.id – Manuskrip peninggalan Ponpes Sumber Anyar Pamekasan yang berada dalam pemeliharaan Padepokan Raden Umro adalah bukti meriahnya tradisi keilmuan di pesantren. Ratusan naskah kuno itu merupakan catatan keilmuan yang kompleks.
Pendiri Padepokan Raden Umro Habibullah Bahwi mengatakan, kitab-kitab kuno yang diselamatkan itu membuka cakrawala disiplin ilmu pesantren tempo dulu.
Pusat peradaban pesantren di Madura yang lama tidak diketahui rimbanya, tetapi terbukti peradaban itu ada di dekatnya.
”Sangat lengkap dan beragam, ratusan manuskrip yang ada dari beragam jenis dan disiplin ilmu mulai abad 16 hingga 19. Tidak hanya sebatas ilmu agama, tetapi juga ada kitab suci, bahasa, filsafat, tasawuf, teologi, perkamusan, sastra, sejarah, dan lain sebagainya,” sebut Habib.
Bahkan, ada beberapa kitab langka tersimpan di Padepokan Raden Umro. Seperti manuskrip karya ulama Timur Tengah, seorang filsuf Yunani Ishaguji, termasuk kamus karya ulama Andalusia Fairuzabadi.
Manuskrip kitab-kitab itu hanya terdapat di beberapa perpustakaan Islam, seperti di Universitas Al Azhar, Mesir, dan di Istanbul, Turki.
”Tentu saja, dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam dan komprehensif terhadap koleksi naskah kuno yang ada di sini.
Sehingga, semuanya bisa lebih jelas dan terang, bahwa pendidikan pesantren yang kita anggap tradisional itu, ternyata dulu pengajaran disiplin ilmunya luar biasa,” terangnya.
Di samping itu, terdapat juga manuskrip karya ulama Aceh abad ke-13, yaitu Bahrul Lahut yang pernah diklaim sebagai warisan keislaman Malaysia.
Jumlahnya sebanyak tiga naskah. Kitab tersebut sangatlah penting, bukan saja sebagai sumber khazanah agama tertua, tetapi merupakan bukti adanya jaringan intelektual Islam Nusantara.
Adapun bahasa dari naskah kuno yang kini dirawat zuriah KH Zubair itu bermacam-macam.
Meliputi Arab, Jawa, dan Madura. Kalau yang Jawa itu seperti carakan, Arab, dan pegon atau jawi atau pegu (sebutan pegon dalam bahasa Madura). Bahannya ada yang terdiri atas dluwang, kertas Eropa, kertas, dan lontar.
”Keberadaan manuskrip ini semakin mempertegas luasnya jaringan intelektual pesantren masa lampau di Madura. Bahkan, seperti ilmu filsafat yang belakangan dilarang diajarkan di pesantren, dahulu para kiai buktinya mempelajarinya,” katanya.
Habib memiliki keinginan yang sangat besar untuk mengkaji satu per satu manuskrip peninggalan sesepuhnya itu.
Dia meyakini, jika kitab-kitab kuno tersebut mampu diinterpretasikan ke dalam pendidikan pesantren hari ini, tidak berlebihan jika pesantren akan menjadi pusat keilmuan.
”Kami tetap mengupayakan itu. Tapi, untuk saat ini, kami masih fokus pada penyelamatan dan perawatan. Karena untuk mengkaji manuskrip itu butuh disiplin ilmu yang kompleks. Artinya, perlu melibatkan banyak peneliti,” pungkasnya. (lil/luq)
Editor : Achmad Andrian F