Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Konsep Kurikulum Penyatuan IBS PKMKK Kembang Kuning Pamekasan

Berta SL Danafia • Sabtu, 29 Maret 2025 | 11:06 WIB
CINTA LINGKUNGAN: Santri IBS PKMKK Kembang Kuning merawat tanaman sebagai wujud pelaksanaan konsep kurikulum penyatuan. (ACHMAD MUHLIS UNTUK JPRM)
CINTA LINGKUNGAN: Santri IBS PKMKK Kembang Kuning merawat tanaman sebagai wujud pelaksanaan konsep kurikulum penyatuan. (ACHMAD MUHLIS UNTUK JPRM)

Oleh: ACHMAD MUHLIS (Dirut IBS PKMKK Kembang Kuning Pamekasan)

PENCIPTAAN manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan merupakan tiga jenis makhluk yang harus bersinergi antara satu dengan lainnya.

Saling memahami, saling memaknai, saling dukung, dan saling mengalah bukan merasa benar sendiri, egois, hedonis, hipokrit, dan lain-lain.

Dengan demikian, alam ini menjadi kondusif karena ketiganya. Makhluk inilah yang menjadi penentu untuk selalu ramah pada makhluk lainnya.

Namun, pertanyaan besarnya adalah, apakah ketiga makhluk ini akan mampu melaksanakan tugasnya di muka bumi ini?

Jawabannya sudah bisa ditebak, yakni hanya makhluk berupa manusia yang akan mampu melaksanakan tugas-tugas itu dengan baik (mon ta’ ngala’ karebba dibi’; Madura). 

Kedua makhluk lainnya, yakni hewan dan tumbuh-tumbuhan, hanya bisa menjadi sasaran untuk mengundang bencana alam.

Sebab, keduanya tidak memiliki akal dan pikiran untuk menguraikan tugas-tugasnya pada makhluk yang lain.

Namun, diyakini atau tidak, kedua makhluk ini sangat bermanfaat, potensial untuk dikembangkan bagi keberlangsungan kehidupan makhluk yang namanya manusia.

Tumbuhan sebagai salah satu makhluk hidup di bumi memerlukan makanan untuk bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang.

Untuk itu, tumbuhan membuat makanan sendiri dengan bantuan air yang bekerja sama dengan karbon dioksida, zat hijau daun, serta cahaya matahari untuk menghasilkan makanan.

Proses membuat makanan sendiri pada tumbuhan inilah yang dinamakan proses fotosintesis. Keberadaan karbon dioksida sangat penting bagi tumbuhan.

Tanpa adanya karbon dioksida, tumbuhan tidak dapat melakukan proses fotosintesis sehingga tumbuhan menjadi layu dan mati.

Tumbuhan sangat bermanfaat bagi lingkungan, terutama sebagai penghasil oksigen dan menyerap karbon dioksida. 

Antara lain sebagai bahan makanan bagi hewan dan manusia, tempat bersarang dan tempat hidup bagi hewan-hewan tertentu, mencegah longsor, dan memelihara kemampuan tanah dalam menyerap air.

Karbon dioksida yang kita kenal sebagai penyebab utama terjadinya kekacauan lingkungan ternyata dapat juga menyelamatkan nyawa manusia.

Karbon dioksida dimanfaatkan sebagai gas pengisi pelampung. Bahkan, perahu karet yang digunakan sebagai transportasi ketika penyelamatan menggunakan gas karbon dioksida untuk memungkinkan perahu tersebut dapat mengapung di air.

Di samping itu, tumbuhan merupakan salah satu penyumbang oksigen, akan tetapi hanya 20 persen untuk bumi.

Pohon berguna untuk mitigasi (mengurangi) karbon dioksida yang ada di bumi.

Jadi, untuk mengurangi dampak pemanasan global, tanamlah pohon agar CO2-nya dapat dimanfaatkan oleh pohon.

Sebab, nilai wajar CO2 adalah 0,1 persen di bumi ini, tetapi 2013 kadar CO2 di atmosfer bumi sudah mencapai 0,3 persen.

Oksigen juga sangat bermanfaat bagi tubuh manusia. Antara lain, diperlukan dalam sistem pernapasan, membantu fungsi sel-sel tubuh manusia, membantu sistem peredaran darah, mempercantik kulit, dan mencegah penuaan dini.

Selain itu mengoptimalkan daya ingat, mencegah kanker, asma dan penyakit lainnya, mengatasi stres, menjaga kekebalan tubuh, membantu degenerasi sel secara biologi, sebagai terapi penyakit, support energi tubuh, dan lain-lain, yang pada intinya sangat bermanfaat pada keberlangsungan hidup manusia.

Hewan banyak dimanfaatkan untuk keperluan hidup manusia. Hewan tidak hanya dapat digunakan sebagai bahan pangan (makanan), sandang (pakaian), obat-obatan, perhiasan, dan kerajinan, membantu pekerjaan manusia, dan percobaan/penelitian.

Namun, hewan juga dapat menjaga keseimbangan lingkungan. Di antara hewan ada yang pemakan tumbuhan dan ada yang pemakan hewan lain.

Dalam satu ekosistem akan terjadi proses keseimbangan. Hewan satu memakan hewan lain seperti berkembangnya katak akan menghambat perkembangan nyamuk, berkembangnya tikus sawah akan terhambat jika populasi ular terjaga.

Selain itu, menjaga kesuburan tanah, hewan-hewan seperti cacing dan jangkrik selalu membuat lubang atau sarang di tanah sehingga oksigen akan mudah masuk ke dalam tanah.

Akibatnya, tanah semakin gembur dan menguntungkan bagi tumbuhan. Lalu, hewan menghasilkan bahan penyubur tanaman berupa pupuk dari kotoran hewan.

Manusia sebagai makhluk Allah yang memiliki kelebihan berupa akal ketimbang makhluk lainnya di bumi, seharusnya mampu dan bisa bersinergi, bekerja sama dengan makhluk lainnya untuk menciptakan kondisi alam semesta menjadi kondusif dan menyejukkan dengan tetap memadukan prinsip isikhlaf, keseimbangan, taskhir, dan keterkaitan antara makhluq dan khaliq.

Ada sekitar 750 ayat dalam Al-Qur’an yang memberikan informasi tentang fenomena perpaduan alam semesta ini.

Bahkan, dialog antara Allah dan para malaikat tergambar dalam surah Al-Baqarah ayat 30 tentang penciptaan manusia di bumi karena adanya perbedaan pendapat dan pandangan.

Sementara malaikat telah mengetahui realitas keberadaan manusia di muka bumi ini, tetapi semua itu dibantah oleh Allah dengan perkataan ”Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Tugas dan fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi ini hanya untuk memelihara dan melestarikan alam, mengambil manfaat, serta mengelola kekayaan alamnya sehingga terwujud kedamaian dan kesejahteraan bagi segenap manusia.

Dengan demikian, bencana alam seperti banjir, longsor, maupun bencana sosial seperti penggunaan narkoba, perzinahan, dan lain-lain itu tidak akan terjadi, kalau bukan sebagai akibat dari sifat serakah, sombong, dan keangkuhan manusia.

Manusia saat ini sudah tidak lagi berposisi sebagai khalifah, ia tidak sadar bahwa tumbuhan dan hewan merupakan makhluk yang sangat menentukan keberlangsungan hidup manusia, tetapi banyak yang tidak menyadarinya.

Manusia dengan mudah menebang pohon/tumbuhan, membunuh hewan hanya karena nafsu yang dikedepankan, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari perilakunya.

Manusia di muka bumi sebagai seorang muslim dan hamba Allah yang taat seharusnya selalu menjalankan tugas dan fungsinya sebagai khalifah dengan cara tidak melakukan hal-hal yang dapat mengganggu aktivitas makhluk lain, tidak melakukan perusakan terhadap alam sekitar yang diciptakan oleh Allah SWT.

Sebab, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan seperti firman Allah dalam surah Al-Qashash ayat 77.

Memelihara alam, bumi, serta makhluk lainnya dalam arti yang luas termasuk juga di dalamnya memelihara akidah dan akhlak manusia terhadap sesama makhluk.

Memelihara dari kebiasaan dan kebiadaban orang-orang jahiliah, yaitu merusak, membinasakan serta menghancurkan alam demi kepentingan sesaat.

Salah satu penyebabnya adalah karena sumber daya manusia ”akidah dan akhlak” yang rusak. Hal itulah yang sangat potensial merusak alam.

Mari kita sebagai manusia berakhlak dan berakidah bersama-sama menghindari serta menolak untuk tidak melakukan perusakan dan pembinasaan terhadap alam sekitar makhluk lain, yakni tumbuhan dan hewan.

Manusia diciptakan oleh Allah bukan untuk merusak, melainkan untuk memakmurkan kehidupan makhluk di muka bumi ini sesuai dengan petunjuk bagi semesta alam.

Inilah konsep kurikulum penyatuan yang dikembangkan Islamic Boarding School (IBS) Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) sebagai perwujudan dan implementasi manusia bertauhid dan berakhlak. (*)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Berta SL Danafia
#makhluk #hewan #kurikulum #Tumbuhan #manusia