PAMEKASAN, RadarMadura.id – Usia Ponpes Cendana Mubarok berjalan dua abad. Lembaga pendidikan yang berdiri di pesantren ini mulai tingkat RA hingga ulya atau setara madrasah aliyah (MA).
Santri juga diajarkan berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seperti olahraga berkuda dan memanah.
Ketua Pengurus Ponpes Cendana Mubarok Shohibul Bilal menyampaikan, saat ini jumlah santri yang bermukim sekitar 370 santri. Menurutnya, santri didominasi santri putra.
Lembaga pendidikan pertama yang dibangun yakni madrasah diniyah pada 1949. Saat ini, Ponpes Cendana Mubarok memiliki sejumlah lembaga pendidikan.
Yakni, RA/PAUD, MI Putra dan Putri, madrasah diniyah, PDF Wusto (setara MTs) dan PDF Ulya (setara MA) yang diakui setara dengan pendidikan formal pada umumnya.
”Alhamdulillah, MI hingga PDF Ulya telah diakui oleh Kemenag dan ini pertama di Pamekasan, meskipun pesantren semi salaf,” tuturnya.
Shohibul Bilal memaparkan, program yang dikembangkan pesantren bervariasi. Di antaranya, program akselerasi baca kitab kuning, musyawarah/kajian kitab, dan kegiatan lainnya.
Selain itu, pesantren memiliki program ekstrakurikuler, seperti pencak silat, berkuda, dan memanah.
Menurutnya, kegiatan memanah dan berkuda jarang ditemui di pesantren lain. Pihaknya mempertahankan olahraga tersebut karena termasuk sunah Rasulullah.
”Selain kitab kuning, kami memiliki ciri khas pada kegiatan memanah dan berkuda,” paparnya.
Meski begitu, pesantren tetap mengutamakan pentingnya pendidikan akhlakul karimah, akidah, dan Al-Qur’an. Pertimbangannya, tiga ilmu tersebut saat ini banyak dilupakan oleh santri.
”Santri sekarang lemahnya di situ. Makanya, kami tekankan pada tiga pendidikan itu,” tukasnya. (ay/bil)
Editor : Achmad Andrian F