PAMEKASAN, RadarMadura.id – Lokus stunting di Kabupaten Pamekasan masih cukup banyak.
Buktinya, dari 178 desa dan 11 kelurahan, terdapat 17 kawasan yang ditetapkan sebagai lokus stunting.
Hal itu berdasar hasil kajian tim lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
”Tahun ini ada 17 kawasan yang masuk prioritas penanganan stunting,” kata Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia (P2M) Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Pamekasan Choirul Anam.
Belasan desa/kelurahan tersebut tersebar di enam kecamatan.
Perinciannya, lima desa di Kecamatan Tlanakan, dua desa di Kecamatan Pademawu, dua desa di Kecamatan Galis, dan satu kelurahan di Kecamatan Kota Pamekasan.
Selain itu, lima desa di Kecamatan Proppo dan dua desa di Kecamatan Pegantenan.
”Prevalensi stunting di desa tersebut masih tinggi dari prevalensi kabupaten. Hal itu berdasar hasil bulan timbang bayi di 2024. Saya contohkan di Desa Tlanakan, waktu itu masih sangat tinggi, 47 persen,” ungkapnya.
Dijelaskan, pemetaan ini akan menjadi acuan pemerintah pusat guna lokus penyaluran dana alokasi khusus (DAK).
Sehingga, angka stunting di daerah tersebut dapat ditekan dan menjadi lebih rendah dari prevalensi kabupaten.
”Lokus stunting tahun ini berkurang dua desa bila dibanding tahun sebelumnya. Sebab, pada 2024, ada 19 desa dan kelurahan yang menjadi lokus stunting,” tegasnya.
Dikonfirmasi di tempat terpisah, Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat (KGM) Dinkes Pamekasan Siti Jumaisah mengeklaim penanganan stunting di Kota Gerbang Salam tidak melihat pemetaan lokus.
Penanganan dilakukan di semua daerah yang tercatat memiliki kasus stunting.
”Baik melalui intervensi spesifik maupun intervensi sensitif. Penetapan lokus stunting itu hanya karena paling banyak jumlah kasusnya,” pungkasnya. (lil/yan)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti