PAMEKASAN, RadarMadura.id – Menunaikan ibadah puasa Ramadan tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi seorang perantau.
Apalagi, jika mereka terpaksa harus terpisah dengan keluarga tercinta di kampung halaman.
Seperti yang dirasakan oleh Ketua Pengadilan Negeri (PN) Pamekasan Rahmat Sanjaya.
Pria asal Jakarta itu tak ditemani istri maupun anak selama menunaikan rukun Islam keempat tersebut. Tetapi, Rahmat menjalaninya dengan ikhlas.
”Saya menyadari bahwa risiko tugas dari seorang hakim adalah harus terpisah dari keluarga. Karena itu, pandai-pandailah menyesuaikan diri. Terutama, soal kebiasaan makanan di suatu daerah. Sebab, keluarga saya kan jauh,” ujarnya.
Selama di Pamekasan, Rahmat mengaku cocok dengan makanan di kabupaten berjuluk Bumi Gerbang Salam itu.
Dia tidak kesulitan untuk mencari menu berbuka dan sahur. Sebab, mayoritas penduduk Pamekasan adalah muslim.
”Di Pamekasan, saya cocok. Berasnya enak. Jadi, kalau boleh dibilang ini adalah tempat yang nyaman menjalankan ibadah puasa meski tidak ada keluarga yang mendampingi,” tutur Rahmat pada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).
Sebagai seorang perantau, Rahmat selalu menyempatkan diri untuk mencoba makanan khas daerah. Seperti sate lalat hingga kaldu kokot.
Untuk minuman, dia menyukai pokak, salah satu minuman tradisional beraroma rempah.
”Kalau puasa kan butuh makanan yang cukup banyak. Kalau sate lalat itu rasanya masih kurang. Saya lebih suka ayam bakar. Tentu, harus ada kurma sebelum mengonsumsi makanan berat. Di Pamekasan banyak yang jual,” pungkasnya. (afg/yan)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti