PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pondok Pesantren Matsaratul Huda (Matsda) berdiri di Desa Panempan, Pamekasan.
Saat ini usianya mencapai setengah abad lebih, tepatnya 56 tahun. Pesantren yang dirintis oleh KH Ahmad Syarqawi Miftahul Arifin berdiri pada 1968 M atau bertepatan dengan 1389 H.
Ponpes ini memegang teguh kaidah al-muhafazhah ala al-qadimi ash-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah.
Artinya, melestarikan nilai lama yang baik dan menerapkan nilai-nilai baru yang lebih baik yang tidak bertentangan.
”Pada 1968 Masehi, almarhum KH Ahmad Syarqawi menempati tempat ini tanpa ada niat buka pesantren. Saat pindah diikuti beberapa santri. Kalau tidak salah ada dua atau tiga santri,” kata Pengasuh kedua Ponpes Matsda Panempan KH Kholilurrahman.
Kiai Ahmad Syarqawi adalah sosok ahlul ilmi. Beliau menempuh pendidikan di Ponpes Miftahul Ulum, Bettet, Pamekasan.
Kemudian, melanjutkan ke Pondok Pesantren Genggong, Kraksaan, Probolinggo. Setelah selesai, pulang ke tanah kelahiran dan mendirikan Matsaratul Huda.
Kiai Kholil mengungkapkan, Kiai Ahmad Syarqawi termasuk orang yang aktif dalam organisasi.
Beliau pernah menjabat Rais Syuriah, pimpinan tertinggi di PWNU Jawa Timur. Selain itu, Kiai Syarqawi pernah menjabat anggota DPR RI pada 1971.
”Alhamdulilah, beliau bisa memberikan warna terhadap kehidupan masyarakat Pamekasan bersama dan para tokoh yang lain,” ungkapnya.
Di bawah kepemimpinan Kiai Ahmad Syarqawi, pendidikan yang diterapkan di Ponpes Matsaratul Huda murni salaf.
Santri yang ingin melanjutkan ke pendidikan formal diizinkan untuk melanjutkan sekolah di luar pesantren. Sebab, sarana pendidikan belum memadai.
Sejak berdiri, Ponpes Matsda sudah dipimpin dua pengasuh. Pengasuh pertama sekaligus perintis yakni KH Ahmad Syarqawi Miftahul Arifin.
Pada 1990 M, keluarga pesantren kehilangan panutan karena Kiai Syarqawi wafat.
Para sesepuh meminta KH Kholilurrahman, keponakan sekaligus menantunya, untuk melanjutkan kepemimpinan.
Kiai Kholil memimpin Ponpes Matsda sejak 1991. Sejak itulah lembaga pendidikan di pesantren tersebut mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Yakni, berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Matsaratul Huda (YP3M).
YP3M didirikan sebagai wadah lembaga sosial kemasyarakatan, dakwah, dan pendidikan.
Sejak saat itu mulai diterapkan sistem pendidikan formal. ”Saya sudah mengasuh pondok ini sekitar 34 hingga 35 tahun,” tuturnya.
Berdirinya lembaga formal tersebut membawa pengaruh positif kepada masyarakat sekitar.
Tidak sedikit masyarakat yang memondokkan dan menyekolahkan putra putrinya ke Ponpes Matsda.
Santri yang mondok tidak hanya dari wilayah Pamekasan, tapi dari berbagai daerah di luar Madura.
”Kurang lebih sekarang jumlah santri putra-putri hampir 700 orang. Itu yang menetap di dalam, belum yang pulang-pergi. Sekarang untuk pendidikan formal dibatasi hanya untuk santri dan yang dekat dengan pesantren,” pungkasnya. (lil/bil)
Editor : Fatmasari Margaretta