PAMEKASAN, RadarMadura.id – Buah dan minuman segar selalu diburu tiap Ramadan. Buah yang banyak digandrungi salah satunya buah siwalan.
Tidak sedikit juga yang berburu buah siwalan yang sudah diolah menjadi minuman.
Salah satu varian minuman berbahan dasar buah itu adalah es ta’al tangguli.
Bahan utama minuman itu berasal dari satu pohon siwalan. Ta’al merupakan buah dari pohon tarebung.
Sedangkan tangguli merupakan larutan gula merah. Sementara gula merah terbuat dari nira. Nira disadap dari mayang atau bunga siwalan.
Pohon ini mudah dijumpai di Madura. Mulai dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep.
Meski kaya manfaat, tidak mudah untuk mendapatkan buah siwalan dan nira.
Butuh kerja keras dan menguji adrenalin. Sebab, rata-rata pohon siwalan tinggi menjulang.
Di sisi lain, hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat mempermudah pengambilan buah siwalan, nira, dan daun siwalan.
Umumnya, warga memanjat secara manual sehingga sangat berisiko.
Salah seorang yang memiliki pohon siwalan adalah Suyadi, warga Desa Sokalelah, Kecamatan Kadur, Pamekasan.
Menurut dia, pohon siwalan tidak sulit untuk ditemui. Pohon ini bernilai ekonomis. Mulai dari pohon, daun, hingga buahnya bermanfaat.
”Kalau musim tembakau, daunnya digunakan untuk membuat tikar,” katanya.
Pohon siwalan atau lontar ini mudah sekali tumbuh. Satu pohon bisa menghasilkan puluhan buah.
Bahkan, bisa ratusan. Bergantung pada kesuburan pohon tersebut.
”Semakin subur pohonnya, maka buah yang diperoleh dalam satu tandan itu akan semakin banyak,” tambahnya.
Biasanya pohon yang subur akan menghasilkan delapan hingga sepuluh buah dalam satu tandan.
Sedangkan yang tidak subur hanya menghasilkan empat buah. Dengan isi satu buah berisi tiga biji taal. ”Jadi setiap pohon itu tidak menentu,” ungkapnya.
Pohon siwalan diketahui berbuah ketika sudah tinggi mencapai sekitar 9 meter.
Dengan usia pohon tahunan. Namun, tidak semua pohon taal dapat berbuah.
”Karena pohon taal itu ada yang lake’ dan bine’. Kalau berbuah berarti itu tarebung bine’. Yang tidak berbuah hanya berbunga,” paparnya.
Buah siwalan tidak bergantung pada musim tertentu. Pertumbuhan hampir setiap dua bulan sekali untuk bisa dipanen.
Dengan siklus pembuahan terus berjalan. ”Untuk perawatan khusus tidak ada. Sekalipun terserang hama, mungkin busuk saja,” tuturnya. (ay/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti