Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Buka Belasan Cabang Beromzet Ratusan Juta, Prinsip Owner NFC: Sedikit Untung asal Pembeli Banyak

Hera Marylia Damayanti • Senin, 13 Januari 2025 | 00:54 WIB
BERHASIL: Nadzif Hamdanillah menunjukkan produk fried chicken di kedainya Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Sabtu (4/1). (AYU LATIFAH/JPRM)
BERHASIL: Nadzif Hamdanillah menunjukkan produk fried chicken di kedainya Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Sabtu (4/1). (AYU LATIFAH/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Menjadi pengusaha sukses di usia muda menjadi impian setiap orang.

Namun, impian tersebut tidak pernah tebersit di benak Nadzif Hamdanillah.

Namun, kini dia berhasil menjadi pengusaha sukses dengan memiliki banyak cabang rumah makan.

Pemilik usaha Nadzif Fried Chicken (NFC) membuka usaha atas dorongan orang tua.

Hal itu bermula saat pemuda 24 tahun itu ingin memiliki usaha sampingan setelah memutuskan kuliah di Madura.

”Keinginan saya berkuliah di Surabaya, tapi sama orang tua tidak diperbolehkan. Maka, setelah diterima di Madura, saya berkeinginan membuka usaha,” katanya Sabtu (4/1).

Nadzif memulai usaha pada Sabtu, 26 Desember 2020. Saat itu hanya memanfaatkan satu gerai toko yang tidak terpakai.

Usaha ayam geprek merupakan rencana kali pertama membuka usaha.

”Niat saya membuka usaha studio foto. Karena saya tidak punya banyak peralatan, maka ibu menyarankan untuk membuka usaha ayam geprek. Untuk resep, ibu yang meracik,” ucap alumnus Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Madura tersebut.

Ayam geprek miliknya memang dijual lebih murah dari pasaran. Yakni, dipatok dari Rp 10 ribu hingga Rp 14 ribu.

Harga tersebut sudah lengkap dengan nasi dan air kemasan 330 mililiter.

”Yang membedakan itu pada potongan ayam dan sambalnya,” katanya.

Satu porsi harga Rp 10 ribu dapat sayap atau paha plus nasi sambal atau saus.

Sedangkan yang Rp 13 ribu dan Rp 14 ribu itu dapat dada. ”Yang membedakan sambalnya,” terang Nadzif.

RAMAI: Nadzif Hamdanillah melayani pembeli di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Sabtu (4/1). (AYU LATIFAH/JPRM)
RAMAI: Nadzif Hamdanillah melayani pembeli di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Sabtu (4/1). (AYU LATIFAH/JPRM)

Pria berkacamata itu memang sengaja menjual dengan harga murah. Sebab, dirinya menyesuaikan kebutuhan pasar di Madura.

Meskipun secara bahan mengalami kenaikan, dirinya tidak menaikkan harga.

”Prinsip saya, berjualan itu tidak harus banyak untung. Tidak apa meskipun sedikit, yang penting pembelinya banyak. Daripada mahal tapi yang membeli sedikit,” ungkapnya.

Usaha ayam geprek miliknya terus berkembang. Dari 100 hingga 300 bungkus per hari kini telah tembus 2.000 hingga 4.000 bungkus.

Hal itu setelah produknya diviralkan oleh KH Musleh Adnan.

”Awal 2021 di endorse oleh Kiai Musleh di pengajian malam seninan. Alhamdulillah setelah itu banyak masyarakat yang mencoba ayam geprek saya,” terang pria yang merupakan keponakan KH Musleh Adnan itu.

Kesuksesan Nadzif terus membuahkan hasil. Dari satu gerai kini telah memiliki 19 cabang di beberapa daerah.

Tidak hanya di Madura, melainkan juga membuka cabang di Sidoarjo dan Jember. Dalam waktu dekat akan menggenapkan cabang baru.

”Alhamdulillah, sekarang ada 89 karyawan, dan butuh 12 karyawan untuk cabang baru serta menambah di outlet yang ramai,” paparnya.

Pendapatan yang diperoleh dari usaha tersebut berkisar Rp 100 juta dalam satu bulan.

Nadzif menarget akan membuka outlet di Surabaya. Hal itu menjadi targetnya setelah lulus S-2 di Unair Surabaya.

”Paling tidak, target terkenal seperti Gacoan. Utamanya di daerah Jawa Timur. Insyaallah tahun depan sudah bisa buka di Surabaya dan akan membuka resto dan kafe,” harapnya.

Keberhasilan usaha Nadzif saat ini tidak lepas dari peran beberapa orang terdekat. Terutama kedua orang tuanya dan temannya.

Yakni, Hidayatullah yang saat ini telah menjadi rekan kerjanya.

”Mereka yang men-support saya hingga sejauh ini,” ucap putra pertama empat bersaudara pasangan A. Qusyairi dan Susmawati itu.

Menurutnya, ucapan terima kasih belum seberapa untuk membalas jasa mereka.

Sebab, dalam jatuh bangun dirinya dalam memiliki usaha selalu didampingi.

Terutama saat dirinya diklaim mengambil hak cipta produk label lain dan tutupnya beberapa gerai karena sepi.

”Saya membuka usaha ini tidak punya skill pebisnis, murni otodidak. Saya hanya bisa berharap terus bisa mengembangkan usaha ini,” pungkas pria warga Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, itu. (ay/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#rumah makan #cabang baru #sambal #pengusaha sukses #ayam geprek #NFC #harga murah #Nadzif Fried Chicken #usaha