PAMEKASAN, RadarMadura.id - Kebudayaan lahir dari kehidupan masyarakat dengan penuh nilai.
Termasuk tarian dhânggâ’ yang lestarikan oleh Zainollah secara turun temurun.
Ratusan orang berkumpul di Lapangan Sedangdang, Pamekasan, pada Sabtu (4/1) malam. Mereka menyaksikan beragam pertunjukan.
Mulai dari seni tradisional hingga modern. Dalam kesempatan itu ada satu pertunjukan yang menyita perhatian.
Seni tradisional itu sudah jarang dijumpai di beberapa pertunjukan kesenian di Bumi Gerbang Salam.
Para penari terdiri atas laki-laki, yang kesemuanya berusia di atas 40 tahun.
Namun, mereka masih tampak semangat dan tiap gerakan tarian sangat sarat makna.
”Namanya tari dhânggâ’, itu singkatan dari atandhâng magâgâ’,” jelas Ketua Komunitas Tari Dhânggâ’ Zainollah kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) setelah pementasan.
Pria dengan pakaian khas Sakera itu sangat antusias menerangkan satu per satu makna dan filosofi dari setiap gerakan tarian yang digelutinya itu.
Zainol mengaku tidak mengetahui secara pasti asal usul dari tarian dhânggâ’ itu sendiri.
”Siapa yang menciptakan tidak ada keterangannya. Akan tetapi, keluarga saya melestarikanya secara turun-temurun. Saya sudah generasi keempat dari kakek dan buyut saya,” tuturnya.
Gerakan yang ditampilkan dalam tarian itu merupakan ekspresi nelayan saat melaut.
Kemudian, dijadikan pertunjukan untuk menghibur saat ada kegiatan di kampung nelayan.
”Tarian tradisional seperti ini sekarang kurang diminati oleh generasi muda. Harapan kami, ini tetap lestari sebagai salah satu identitas budaya yang dimiliki Pamekasan,” ujarnya.
Tarian yang diperagakan oleh sepuluh orang ini sarat dengan makna dan nilai filosofi yang luhur terkait pekerjaan nelayan dan gambaran kehidupan manusia.
Di dalam tarian itu menggambarkan prosesi melaut oleh nelayan Madura.
Pertama adalah tari pembukaan. Menurut Zainol, tarian ini menggambarkan pemeriksaan kesiapan untuk melaut. Mulai pemeriksaan orang hingga alat-alat yang dibutuhkan.
Dengan demikian, dapat dipastikan layak atau tidak untuk dipakai menangkap ikan di lautan.
”Ini mengibaratkan kehidupan. Seperti melarung ke tengah lautan, jadi perlu kesiapan. Baik mental atau spiritual, termasuk alat, bekal, kebersamaan, dan sebagainya,” jelas pria yang juga guru master program revitalisasi bahasa Madura itu.
Setelah semuanya siap, lanjutnya, tarian dhânggâ’ dimulai dengan pembacaan tembang macapat.
Tembang Kasmaran tersebut merupakan arti dari basmalah yang dilakukan dengan menggunakan bahasa Madura.
Tarian kedua adalah tarian mendorong perahu. Pada tarian ini menunjukkan nilai kebersamaan melalui satu komando seorang penari.
Dalam pertunjukan malam itu dipimpin langsung oleh Zainol yang diiringi dengan tabuhan musik tradisional.
”Sesuatu yang berat sekalipun kalau kita kompak dan ada kebersamaan serta saling bersinergi, semuanya akan terasa mudah. Di kehidupan juga seperti itu, ada nilai-nilai gotong royong,” terangnya.
Selanjutnya adalah tari mendayung. Dalam mendayung memerlukan satu visi dan misi antar satu orang nelayan dengan lainnya.
Diperlukan satu irama yang sama selama proses mendayung sehingga sampai pada tujuan, yaitu mencari ikan.
”Ada nilai juang, karena tidak selamanya keadaan laut tenang. Sewaktu-waktu bisa diterpa angin, badai, dan sebagainya. Di situ mental kita ditempa, bagaimana kita tetap menjaga kebersamaan,” tegasnya.
Kemudian, tari menebar paya (pajhâng). Setiap personel memiliki tugas dan fungsi masing-masing.
Pembagian tugas disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki dan dikerjakan secara disiplin.
”Zaman dulu, kalau di tengah laut, sembari menunggu hasil tangkapan, itu biasanya melantunkan tembang. Ada yang berperan sebagai pemusik, ada yang nembang. Tujuannya, menghibur diri,” terangnya.
Gerakan terakhir, tari pulang ke pantai. Pria 58 tahun itu menjelaskan, karakter yang ditampilkan adalah menunjukkan kegembiraan.
Termasuk juga irama musik menggambarkan suatu kebahagiaan kedatangan nelayan sepulang menangkap ikan.
”Itu semua gambaran kehidupan, yang diibaratan seperti nelayan melarung ke tengah lautan dan pulang membawa ikan hasil tangkapan,” pungkasnya. (*/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta