SUMENEP, RadarMadura.id – Penyakit dan kematian mendadak sapi para peternak berimbas pada pasar ternak. Sejumlah pasar hewan di Kabupaten Sumenep mulai sepi pengunjung.
Pasar yang biasanya dijubeli pengunjung itu kini jarang pembeli. Di sisi lain, harga sapi juga cenderung tidak stabil.
Ratusan ekor sapi di beberapa kecamatan di Kota Keris terserang bovine ephemeral fever (BEF) hingga mengalami kematian mendadak.
Akibatnya, para pedagang enggan membawa dagangan karena khawatir tidak ada pembeli.
Salah seorang pedagang sapi Rahem mengakui pasar hewan terdampak penyakit sapi.
Dia menuturkan, kondisi pasar hewan tidak begitu ramai sejak sapi para peternak banyak penyakit.
Menurutnya, masyarakat enggan untuk melakukan pembelian karena khawatir adanya penyakit.
”Iya, sekarang pasar sapi tidak seramai biasanya,” terangnya pada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di Pasar Kamisan, Sumenep, Kamis (9/1).
Dia bersyukur karena harga sapi cenderung stabil. Namun, dia mengakui memang ada penurunan harga.
Harga sapi yang biasanya Rp 15 juta masih bisa dijual dengan harga Rp 14 juta sampai Rp 14,5 juta.
”Kalau harganya, alhamdulillah tidak turun secara signifikan, sehingga kami sebagai pedagang tidak terlalu merugi,” ucapnya.
Sapi yang mati mendadak salah satunya milik Ahmad Sadah, warga Desa Cangkreng, Kecamatan Lenteng. Sadah bersama istrinya memelihara dua ekor sapi.
Beberapa waktu lalu, satu dari dua ekor sapi yang dia pelihara tiba-tiba mati.
Pria yang juga petani itu tidak ingin sapi yang tinggal satu itu mati tak berharga. Karena itu, satu ekor yang lain dia jual kepada tukang jagal. Sebab, hewan ternak itu sudah tidak sehat.
Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep menangani 806 ekor sapi yang terserang ini penyakit BEF. Dari ratusan kasus itu, puluhan di antaranya mati.
”Kami sudah melakukan berbagai upaya terbaik. Kami minta masyarakat agar segera melaporkan kepada petugas tiap kecamatan jika sapinya sakit agar segera bisa ditangani,” tutur Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Sumenep Zulfa.
Zulfa menjelaskan, hingga saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan di laboratorium provinsi.
Namun, berdasarkan gejala yang dialami oleh sapi lebih mendekati ke penyakit BEF daripada penyakit mulut dan kuku (PMK).
Karena itu, dia mengimbau para peternak terus membersihkan kandang ternak. Pada saat bersamaan juga tidak mendatangkan sapi baru selama penyakit ini belum membaik.
”Masyarakat harus segera menghubungi petugas yang ditempatkan di kecamatan jika ada gejala sakit pada ternaknya,” imbaunya. (tif/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta