Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Suparmin Sebut Brand Pentol Asyik Roni Hanya Diizinkan untuk Keluarga

Hera Marylia Damayanti • Senin, 30 Desember 2024 | 04:49 WIB
MENGAIS REZEKI: Sumanto, pemilik lapak Pentol Asyik Roni di Jalan Kabupaten, Pamekasan, bersama seorang karyawannya sedang melayani pembeli, Rabu (25/12). (M. KHOLIL RAMLI/JPRM)
MENGAIS REZEKI: Sumanto, pemilik lapak Pentol Asyik Roni di Jalan Kabupaten, Pamekasan, bersama seorang karyawannya sedang melayani pembeli, Rabu (25/12). (M. KHOLIL RAMLI/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Dua puluh empat tahun Suparmin membangun brand Pentol Asyik Roni di Pamekasan.

Bahkan, saat ini juga berkembang di beberapa daerah di Bangkalan, Sampang, dan Sumenep.

Rombong Pentol Asyik Roni sangat mencolok sehingga mudah dikenali. Yakni, dominan warna merah muda dengan kombinasi biro.

Di tempat usaha itu dilengkapi beberapa wadah pentol dan saos. Para penjual biasanya mangkal di pinggir jalan.

Di Bangkalan misalnya, ada rombong pentol dengan ciri khas ini di Jalan KH Moh Kholil dan di Jalan Trunojoyo.

Lapak dengan tampilan nyaris sama dapat dijumpai di Jalan Diponegoro, Sumenep.

Suparmin menyadari bahwa setelah brand usahanya banyak dikenal oleh masyarakat Pulau Garam, potensi menirunya sangat besar.

Termasuk dengan nama dan tampilan yang sama persis sehingga sulit dibedakan dengan yang asli.

Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), lelaki berbadan tegap itu menyebut tidak ada makna khusus untuk nama brand dan pilihan warna yang menjadi ciri khas lapaknya.

Nama Roni sendiri hanya terinspirasi dari usaha temannya di kampung halaman.

”Nama itu terinspirasi dari teman saya di Solo yang jualan bakso diberi nama Roni. Kok bagus, saya pakai dengan harapan bisa sukses. Kalau warna, biru dan pink itu hanya supaya terlihat indah dan cerah. Itu saja, tidak ada alasan ini dan itu,” sebutnya.

Menurut Suparmin, tidak semua usaha yang memakai brand Pentol Asyik Roni dengan bentuk dan tampilan yang sama sudah mendapatkan izin.

Suparmin hanya mengizinkan brand itu digunakan oleh keluarga dekatnya.

”Ini konsekuensi dari usaha yang saya rintis dari nol. Saya hanya mengizinkan nama Pentol Asyik Roni digunakan khusus saudara yang ingin buka usaha pentol. Pernah ada orang luar pamit, tidak saya izinkan,” terangnya.

Dia menyebut, di Pamekasan hanya ada delapan rombong dengan enam pemilik yang mendapat izin menggunakan brand-nya.

Salah satunya milik Sumanto, yang berlokasi di Jalan Kabupaten dan di depan SMPN 3 Pamekasan.

Dengan begitu, usaha Pentol Asyik Roni ini tidak semua milik Suparmin. Mereka berdiri sendiri.

Bukan jejaring usaha yang dijuragani Suparmin. Mereka hanya menggunakan nama dan tampilan yang sama.

Namun, penggunaan nama dan warna itu atas izin Suparmin. Karena itu, para penjual yang mendapat izin itu memproduksi pentol sendiri.

Tidak disuplai Suparmin. Bahkan, gerobak dengan nama Pentol Asyik Roni Cabang Pamekasan sekalipun itu bukan berarti anak usaha yang dikembangkan Suparmin.

”Kalau yang di Sumenep ada satu rombong, adik saya. Di Sampang dua rombong, itu kakak saya. Sementara di Bangkalan sepupu ada dua rombong. Semua itu produksinya sendiri-sendiri, tidak menginduk,” tuturnya.

Sumanto, salah seorang pemilik lapak Pentol Asyik Roni mengaku bahwa penggunaan brand usahanya sudah seizin Suparmin, yang tidak lain adalah kakak iparnya.

Dia mulai fokus mengikuti jejak suami kakaknya sejak empat tahun lalu.

Mulanya, sejak merantau di usia 15 tahun ke Pamekasan, Sumanto bekerja kepada orang lain jualan pecel Madiun selama sepuluh tahun.

Baru pada 2008 membuka usaha mi ayam sendiri. Lalu, pada 2020, fokus pada usaha Pentol Asyik Roni.

”Saat itu, sembari usaha mi ayam, saya juga jual pentol. Karena mi ayam banyak menyita waktu, saya fokus pada usaha pentol saja. Kalau pentol tidak harus dijaga sendiri, beda dengan mi ayam,” ujarnya.

Sumanto memproduksi sendiri pentol yang dijajakan. Tidak satu produksi dengan pentol yang dijual Suparmin.

Meski demikian, menu dan harganya sama saja tidak ada perbedaan. Soal rasa, pelanggan yang merasakan.

”Kalau saya ada dua lapak dengan enam pegawai, omzet per hari tertinggi itu Rp 4 jutaan. Rencana untuk membuka lagi ada, namanya juga ingin mengembangkan usaha. Tapi, kalau dalam waktu dekat, belum,” tuturnya. (lil/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#izin #keluarga dekat #pulau garam #brand #omzet #Pentol Asyik Roni