PAMEKASAN, RadarMadura.id - Setiap orang berhak memilih jalan hidupnya.
Seperti Suster Patrisia yang memilih tidak menikah demi mengabdikan diri menjadi biarawati.
Cuaca di langit Kota Pamekasan cerah, Kamis (27/12).
Pintu gerbang rumah berpagar warna cokelat di Jalan Raya Nyalaran itu tertutup rapat.
Tak berselang lama saat Jawa Pos Radar Madura (JPRM) datang ke tempat itu, seorang perempuan dengan setruk belanja di tangannya membukakan pintu.
Perempuan itu adalah Suster Patrisia. Dia menyambut dan mempersilakan Jawa Pos Radar Madura untuk masuk.
”Sudah lama ya menunggu? Maaf, tadi masih ke swalayan,” ujarnya.
Rumah memanjang ke belakang tersebut tampak cukup sederhana.
Di dalamnya terdapat banyak patung salib serta foto John Paul II dan Beata Fey yang dihias indah.
Itu menandakan rumah yang disebut Biara Pauperis Infantis Jesu (PIJ) itu turut menjadi tempat perayaan Natal 2024.
”Mari minum dulu. Kebetulan saya juga haus,” ujarnya dengan menyuguhkan es puding dan kue natal di atas sofa, Kamis (26/12).
Nama asli Suster Patrisia adalah Theresia Maria Erni Widyastuti.
Dia merupakan anak kelima dari delapan bersaudara yang lahir di Kota Sumenep.
Sedangkan orang tuanya berasal dari Klaten dan Madiun.
Suster Patrisia menjadi orang satu-satunya di anggota keluarganya yang memilih menjadi biarawati.
Butuh proses dan waktu yang cukup panjang untuk menjadi pelayan Tuhan.
Meskipun pilihannya itu tidak pernah menjadi cita-citanya di masa kecil.
”Menjadi biarawati itu pilihan saya sendiri. Dorongan dari orang tua juga ada saat itu. Namun, dengan cara yang berbeda,” ujarnya sambil mengajak JPRM berkeliling di rumah biara.
Pilihan sucinya itu muncul saat dirinya tinggal di Kabupaten Jember.
Yakni, saat dirinya banyak belajar dan tumbuh rasa iba mengasihani seorang yang membutuhkan dan tidak mampu.
Meskipun keluarganya sendiri juga dalam keadaan ekonomi pas-pasan.
”Ibu saya selalu mengedukasi saya untukl selalu memberi uang kepada pengemis, meskipun kami dalam keadaan keterbatasan. Keteladan itu yang mendorong saya saat besar, saya harus bisa menolong mereka” ungkapnya.
Sembari menunjukkan buku ibadat di Kapel, dia mengingat jelas perjuangannya untuk menjadi biarawati.
Dia harus menempuh masa pendidikan kurang lebih dua tahun.
Yakni, dari postulan dan novisiat yang dimulai 1982-1984 di Kota Malang.
”Baru setelah menyelesaikan masa pendidikan, saya melakukan kaul (janji) pertama 1985, kaul kedua 1986, dan kaul ketiga pada 1988 untuk menjadi biarawati,” ujar perempuan berusia 61 tahun tersebut.
Dirinya dikukuhkan menjadi biarawati sejati setelah mengucapkan kaul kekal 1991. Keputusan itu membuatnya tidak akan menikah.
Dengan begitu, dirinya bisa maksimal dan optimal membantu sesama tanpa terbebani kewajiban yang lain.
”Saya tahu bahwa biarawati tidak menikah. Itu keputusan saya sendiri dan nama saya diganti menjadi Suster Patrisia,” paparnya.
Pengabdian menjadi pelayan Tuhan sepenuhnya dia ambil. Sebab, dirinya telah mengucapkan kaul kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan.
Namun, cobaan batinnya menjadi seorang perempuan tumbuh saat dirinya menjadi mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Selain menjalani kehidupan sebagaimana mestinya mahasiswa, dia punya keinginan membina rumah tangga dan memiliki anak.
Keinginan itu tumbuh saat melihat keponakannya yang lucu dan dekat bersamanya.
”Saya juga manusia biasa, berkeinginan berkeluarga. Itu saat saya kaul pertama, bertemu teman-teman dan ponakan saya yang lucu-lucu. Saya kepikiran, aduh saya tidak akan punya anak, begitu tebersit waktu itu,” katanya dengan senyum di bibirnya.
Ada banyak pelajaran hidup yang diambil Suster Patrisia selama menjadi biarawati.
Terutama saat ditugaskan di Peru untuk mendampingi keluarga yang anaknya bunuh diri.
Pengalaman tersebut luar biasa baginya. Sebab, itulah kali pertama dirinya mendampingi kasus di bidang sosial selama menjadi suster.
Pendampingan tersebut merupakan salah satu tugasnya berkecimpung di kongregasi.
Misalnya bekerja di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
Namun, dirinya lebih fokus mengelelola sekolah dan mengajar anak-anak ilmu kekatolikan yang bertugas di beberapa daerah dan negara (lihat grafis).
”Prinsip saya saat ini, saya diberi kesehatan yang cukup saat saya dibutuhkan. Selain itu, dengan mengabdi menjadi biarawati, saya juga menjaga kerukuran umat beragama,” pungkasnya. (ay/jup)
Editor : Fatmasari Margaretta