PAMEKASAN, RadarMadura.id – Cuaca esktrem terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi itu membuat gelombang air laut semakin tinggi.
Sehingga, banyak nelayan yang memilih tidak melaut.
Achmad Fauzi, nelayan asal Desa Tlontoraja, Kecamatan Pasean, mengaku memilih berkumpul dengan keluarga.
Cuaca buruk membuat dirinya tidak memungkinkan untuk melaut.
”Hampir semua nelayan tidak berani bekerja (melaut),” katanya, Jumat (20/12).
Peringatan waspada yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengkhawatirkan para nelayan.
Sebab, BMKG memprediksi ketinggian gelombang bisa mencapai dua meter.
”Sekarang ombak besar tidak seperti biasanya. Meskipun di pasar ada ikan (yang dijual), itu bukan hasil tangkap kami. Tapi, kiriman dari pulau,” ungkapnya.
Sebagian besar nelayan saat ini memilih memperbaiki sarana alat tangkap. Seperti memperbaiki jaring yang rusak.
Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, nelayan mengandalkan sisa tabungan selama ini.
”Sedangkan cuaca buruk yang terjadi diprediksi akan terjadi hingga Maret mendatang,” sambungnya.
Penyuluh Perikanan Bantu Daerah Pantura Budi Cahyono membenarkan cuaca saat ini sedang tidak bersahabat bagi nelayan.
Kondisi itu terbiasa terjadi di setiap akhir tahun oleh nelayan di wilayah utara Pulau Madura.
”Kalau nelayan di selat Madura masih bisa (melaut) meskipun dengan terpaksa. Sebab, gelombang air laut lebih besar perairan Madura bagian utara dari dibandingkan di bagian selatan,” katanya.
Saat ini pihaknya melakukan pembinaan terkait mata pencaharian alternatif kepada nelayan.
”Biasanya kami sarankan melakukan budi daya ikan, berwirausaha, berdagang, dan mengolah hasil perikanan. Namun, kebanyakan dari mereka bertahan (tidak berkenan),” pungkasnya. (ay/jup)
Editor : Fatmasari Margaretta