Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Budi Daya Labu dengan Polinasi Buatan, Warga Sokolelah, Pamekasan, Kembangkan 1.200 Pohon di Tiga Lahan

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 8 Desember 2024 | 16:20 WIB
MATANG: Masrika memetik buah labu di ladangnya, Desa Sokolelah, Kecamatan Kadur, Pamekasan, Sabtu (7/12). (AYU LATIFAH/JPRM)
MATANG: Masrika memetik buah labu di ladangnya, Desa Sokolelah, Kecamatan Kadur, Pamekasan, Sabtu (7/12). (AYU LATIFAH/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Tanaman labu atau Cucurbitaceae termasuk tumbuhan merambat yang cukup familier bagi petani.

Namun, tidak semua petani sukses membudidayakan tanaman labu. Sebab, tumbuhan labu harus dibantu penyerbukan atau polinasi buatan untuk bisa sukses.

Masrika merupakan salah seorang petani yang mengembangkan pertanian ini.

Warga Desa Sokolelah, Kecamatan Kadur, Pamekasan, ini menyampaikan, dirinya membudidayakan labu bukan kali pertama.

Sebelumnya, dirinya pernah mencoba membudidayakan, namun gagal.

”Sebelumnya saya gagal, karena saya mengikuti kebiasaan orang (petani) pada umumnya yang hasilnya kecil,” katanya Sabtu (7/12).

Tanaman labu miliknya berjenis labu kuning yang berasal dari varietas kusuma.

Dari masa tanam bibit pertama, dirinya mulai mengelompokkan pembuahan untuk kebutuhan penjualan. Yakni, untuk labu sayuran dan labu olahan.

”Kalau labu sayuran biasanya beratnya hanya 2–3 kilogram. Tapi kalau untuk produksi olahan itu bisa lebih berat hingga 5 kilogram,” tambahnya.

Masrika mengungkapkan, bunga akan mulai muncul setelah dua bulan sejak pembibitan.

Untuk panen muda khusus sayuran, dirinya cukup menunggu waktu 20 hari atau 90 hari dari pembuahan pertama. Sedangkan untuk produksi olahan, biasanya dipanen pada hari ke 105.

”Semakin tua itu untuk olahan, jadi bergantung peruntukan panennya,” paparnya.

Pria 46 tahun itu menyampaikan, saat masa pembuahan tanaman tersebut harus lebih ekstra diperhatikan.

SEGAR: Labu kuning di pekarangan Desa Sokolelah, Kecamatan Kadur, Pamekasan, Sabtu (7/12). (AYU LATIFAH/JPRM)
SEGAR: Labu kuning di pekarangan Desa Sokolelah, Kecamatan Kadur, Pamekasan, Sabtu (7/12). (AYU LATIFAH/JPRM)

Sebab, faktor kegagalan budi daya labu karena tidak adanya bantuan polinasi buatan. Sehingga menyebabkan pembuahan pada labu tidak maksimal.

”Seperti sebelumnya, saya tidak melakukan perkawinan. Karena bunga pejantan lebih sedikit dan tidak mekar. Jadi, perlu harus dibantu perkawinan,” ungkapnya.

Saat ini Masrika menanam tiga lahan (lokke’) untuk budi daya labu yang dinilai sukses. Satu  lahan ditanami 400 tanaman labu.

Meskipun demikian, pihaknya juga memperhatikan perawatan pada tanaman.

”Karena berdesakan, banyak bunga yang tertutup, jadi tidak bisa berkembang dan mati. Kalaupun hama seperti ulat, kami cukup basmi dengan pestisida,” jelasnya.

Menurutnya, budi daya labu tidak sesulit membudidayakan semangka. Sebab, secara modal dan perawatan tidak begitu ekstra.

Hanya cukup menjaga kebutuhan pupuk dan air, apalagi di musim kemarau.

”Karena saya mencoba di musim kemarau itu butuh air banyak. Pengaliran airnya bisa 1,5 jam dan kalau pupuk itu menyesuaikan,” tuturnya.

Soal pemasaran tidak bingung. Setelah panen pasti laku. Kadang ada orang yang datang untuk beli. Atau, Masrika menjual buah-buah itu ke pasar.

Belum lama ini Masrika panen labu. Dari tiga lahan itu dia berhasil mengumpulkan lebih satu pikap buah labu. Harga tiap kilogram Rp 4.000. (ay/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#labu #polinasi buatan #membudidayakan #Kecamatan Kadur #budi daya