Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Sumur Tua di Pademawu, Pamekasan, Renggut Lima Nyawa, Sudah Direncanakan Ditutup sebelum Memakan Korban

Hera Marylia Damayanti • Jumat, 29 November 2024 | 13:15 WIB
JANGAN MENDEKAT: Warga berada di sekitar sumur milik Moh. Hosen di Dusun Koberung, Desa Jarin, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Kamis (28/11). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
JANGAN MENDEKAT: Warga berada di sekitar sumur milik Moh. Hosen di Dusun Koberung, Desa Jarin, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, Kamis (28/11). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Sumur tua di sudut rumah Fathorrasyid, warga Dusun Koberung, Desa Jarin, Kecamatan Pademawu, membawa petaka.

Dia harus rela menyaksikan mertuanya, Moh. Hosen, dan empat korban lainnya meninggal di dalam sumur itu.

Fathorrasyid tidak menyangka niatnya untuk membantu mertuanya mengangkat bambu di dalam sumur akan menjadi kebersamaannya yang terakhir kali.

Sebelum peristiwa memilukan itu terjadi, Fathorrasyid tidak memiliki firasat buruk apa pun.

”Bapak mertua sempat beristirahat tiga kali sebelum meninggal di dalam sumur. Pertama, saat pekerjaan (mengangkat bambu) tinggal separo. Kedua, dia beristirahat kembali lantaran di dalam sumur sudah terasa pengap dan bau,” tutur Fathorrasyid.

Moh. Hosen cukup lama beristirahat sebelum kembali turun ke dalam sumur sekitar pukul 07.00.

Kemudian, Moh. Hosen berusaha untuk naik ke permukaan kembali dengan dibantu Fathorrasyid. Tetapi, kondisi Hosen sudah terlalu lemas.

”Saya berteriak meminta tolong. Kemudian, datang Moh. Samsuri yang langsung turun ke dalam sumur. Apesnya, dia langsung lemas di dalam. Saya spontan juga mau turun, tetapi dihalangi oleh Moh. Sai. Karena, dia yang mau turun,” terangnya.

Sai yang berniat menolong dua orang tersebut justru menjadi korban selanjutnya.

Dia tidak sadarkan diri setelah berada di dalam sumur. Melihat Zai terkapar, Zainollah yang tak lain keponakannya itu juga turun berniat untuk menolong korban.

Upaya Zainollah menolong pamannya tidak berhasil. Dia juga menjadi korban dalam peristiwa kelam tersebut.

Baca Juga: Alokasi DBHCHT di Pamekasan Tahun Depan Lebih Rp 100 Miliar

Tidak berselang lama, Moh. Azi, yang merupakan keponakan Samsuri, juga menjadi korban.

Dia hendak menyelamatkan empat korban yang ada di dalam sumur.

”Awalnya tidak ada yang tahu bahwa sumur itu bau (beracun, Red) atau tidak. Sehingga, banyak yang berusaha untuk menolong. Tetapi, setelah ada lima korban di dalam sumur, proses evakuasi menggunakan bambu dan tali,” ucap Fathorrasyid.

Perangkat Desa Jarin Samhari menyatakan, proses evakuasi dilakukan secara gotong royong dengan alat yang sederhana.

Warga memang diminta untuk tidak turun langsung ke dalam sumur. Sebab, dia khawatir akan ada tambahan korban.

Sumur yang memakan lima korban itu sudah lama tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Bahkan, sumber air yang terletak di sudut timur rumah itu direncanakan ditutup secara permanen jauh sebelum kejadian tersebut.

”Tidak pernah dipakai karena airnya asin. Tetapi, pada saat kejadian tersebut (sumur, Red) digunakan untuk merendam bambu oleh Hosen. Kejadian ini murni sebagai musibah. Para korban juga masih punya ikatan keluarga,” tegas Samhari.

Kapolsek Pademawu Iptu D. Riawanto menyatakan, anggotanya mendatangi lokasi setelah mendapat laporan warga.

Pihaknya juga telah menutup sumur milik Hosen dan memasang garis polisi di sekitar tempat kejadian perkara (TKP).

”Setelah berhasil dievakuasi, kelima korban dibawa ke RSUD dr H Slamet Martodirdjo (Smart) Pamekasan. Saat tiba di rumah sakit, mereka sudah dinyatakan meninggal dunia karena kehabisan oksigen,” tukasnya. (afg/jup)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#gotong royong #korban #sumur tua #garis polisi #dievakuasi #bau #beracun #meninggal #lemas #terkapar #mengevakuasi #dalam sumur