PAMEKASAN, RadarMadura.id – Ubi jalar yang memiliki nama ilmiah Ipomoea batatas merupakan umbi-umbian yang berasal dari Papua.
Tumbuhan yang masuk pada sumber karbohidrat tersebut memang tergolong tanaman pangan. Berkembangnya dapat tumbuh dengan cara tumpang sari.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Proppo Farmita Arista Wulandari menyampaikan, ubi jalar di Kota Gerbang Salam belum tergolong komoditas unggulan.
Sebab, tanaman pangan satu ini tidak dibudidayakan secara masif. Ubi jalar hanya tanaman sampingan yang dibudidayakan dengan cara tumpang sari.
”Ubi jalar bukan tanaman khusus yang ditanam oleh petani. Tapi, ditanam secara tumpang sari di tanaman inang untuk konsumsi biasa,” katanya Sabtu (19/10).
Ubi jalar sangat mudah untuk tumbuh. Namun, tanaman ini hanya cocok ditanam di sawah, bukan ladang. Sebab, tanaman ini dapat hidup dengan tekstur tanah yang cukup lembap. ”Kalau ladang yang agak berbatu itu tidak cocok. Terlalu kering tanahnya,” tambahnya.
Penanaman ubi jalar biasa dilakukan dengan penanaman stek. Dengan sistem penanaman yang tumpang sari dengan tumbuhan hortikultura yang membutuhkan cukup air. Sehingga, tidak membutuhkan perawatan intensif.
”Perawatannya tidak ada yang khusus. Cukup dia bergantung pada tanaman inangnya,” jelasnya.
Perempuan yang akrab disapa Wulan itu menambahkan, ubi jalar memiliki rasa manis. Namun, untuk mengeluarkan manis tersebut tidak bisa didapatkan saat panen langsung.
Ubi yang telah dipanen harus didiamkan selama dua hingga tiga hari untuk mengeluarkan getahnya.
”Kalau baru dipanen jangan langsung dikonsumsi. Rasanya akan agak getir, mending didiamkan saja dulu biar lebih manis,” saran Wulan. (ay/luq)
Editor : Achmad Andrian F