PAMEKASAN, RadarMadura.id – Enam pabrik rokok nasional yang ada di Pamekasan memutuskan tutup gudang. Para pengusaha tak membeli tembakau milik petani.
Meski begitu, Paguyuban Pelopor Petani dan Pedagang Tembakau Madura (P4TM) memastikan tembakau petani terserap maksimal.
Itu terlihat dari serapan tembakau di sejumlah gudang. Hingga Rabu (23/10), Pemkab Pamekasan mencatat serapan tembakau mencapai 32 ribu ton.
Padahal, target serapan tanaman dengan nama latin nicotiana tobacum tahun ini 26 ribu ton.
Ketua P4TM Khairul Umam memastikan tembakau milik petani terserap maksimal meski pabrikan sudah tutup gudang.
Menurutnya, tahun ini produksi tembakau di Pamekasan menyentuh angka 40 ribu ton.
Pabrikan masih bisa menyerap tembakau petani meski kualitas rendah.
”Apa yang sudah diperjuangkan oleh ulama sudah maksimal. Untuk harga tertinggi pembelian tembakau Rp 85 kilogram (kg) dan terendah Rp 50 kg. Kalau target P4TM sendiri sekitar 6 ribu ton,” katanya saat dikonfirmasi, Jumat (25/10).
Pria yang karib disapa Haji Her itu merasa senang dengan panen tembakau tahun ini.
Namun, kualitas tembakau Madura tidak selalu bagus hingga akhir musim.
Tentunya, harga pembelian disesuaikan dengan kualitas tembakau.
”Di akhir musim kan sering hujan. Ini memang sudah takdirnya dan kita sadar bahwa tidak bisa memprediksi cuaca serta melawan kuasa Tuhan. Akan tetapi, ada beberapa rekan pengusaha tembakau lainnya yang tetap membelinya,” tuturnya.
Hasil serapan tembakau milik petani disuplai ke beberapa pabrik rokok nasional seperti Gudang Garam, Djarum, dan lainnya.
Termasuk, pabrik-pabrik lokal yang ada di Madura. Sebab, P4TM sudah bekerja sama dengan sejumlah pabrik rokok.
Selain melakukan pembelian tembakau, lanjut Haji Her, P4TM juga menekankan pentingnya hilirisasi pertembakauan.
Rencana itu telah dibahas bersama Pemprov Jawa Timur. Tujuannya, agar tata niaga tembakau memiliki payung hukum yang jelas ke depan.
”Saat itu saya membahasnya bersama Khofifah Indar Parawansa saat menjabat sebagai gubernur Jawa Timur. Dia menyanggupi keinginan tersebut. Bahkan, berencana untuk membentuk trading house khusus pertembakauan Madura,” ungkapnya.
Pria yang juga direktur PT Bawang Mas Group itu menginginkan agar payung hukum tentang tata niaga tembakau dibahas kembali.
Dia berharap pemimpin daerah terpilih memiliki konsentrasi terhadap industri tembakau di Madura.
Sebelumnya, Kabid Pembinaan dan Perlindungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan Raihan Akbar menerangkan, tujuh pabrik rokok nasional dan perorangan telah tutup gudang.
Mereka tidak lagi menyerap tembakau milik petani.
Tujuh pabrikan tersebut adalah PT Gudang Garam, PT Alliance One Indonesia (AOI), PR Sukun, PT Wismilak, PT Sadhana Arif Nusa, dan PR Grendel, dan pembelian pribadi. ”Serapan dari pabrikan sudah melampaui target,” tukasnya. (afg/bil)
Editor : Fatmasari Margaretta