Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kembangkan Belasan Jenis Anggur, Angga Sebut Perawatan Gampang-Gampang Susah tapi Menyenangkan

Hera Marylia Damayanti • Senin, 19 Agustus 2024 | 00:43 WIB
PANEN: Manggala Krisna Sugiharto, warga Desa Montok, Kecamatan Larangan, Pamekasan, memetik anggur di halaman depan rumahnya, Sabtu (27/7). (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)
PANEN: Manggala Krisna Sugiharto, warga Desa Montok, Kecamatan Larangan, Pamekasan, memetik anggur di halaman depan rumahnya, Sabtu (27/7). (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Masih segelintir orang yang menanam buah anggur di Madura, khususnya Pamekasan.

Cara menanam dan perawatannya gampang-gampang susah, namun menyenangkan. Seperti yang dilakukan Manggala Krisna Sugiharto.

Warga Desa Montok, Kecamatan Larangan, Pamekasan, itu menekuni budi daya tanaman anggur sejak 2000.

Berkebun menjadi hobi bagi sebagian orang, entah karena untuk mengisi waktu kosong atau agar banyak koleksi buah di rumah atau lahan yang kosong.

Manggala Krisna Sugiharto sudah berkiprah di tanaman buah anggur ini sejak 2000. Kemudian sejak 2020 mulai fokus pada tanaman menjalar ini.

Dia memiliki 17 jenis anggur. Namun, masih sembilan yang mulai berbuah. Yakni trans, dyanka, lorano, sansekerta, kupidon, oscar, ilaria, muscat, dan medovy. 

Cara tanamnya menggunakan rootstock atau batang bawah yang ditempel dengan anggur impor.

Dia menjelaskan, sebenarnya bisa tanpa tempel yang disebut ownroot. Namun, perakarannya kurang bagus.

”Kemudian, ada juga yang tidak ditempel, yang artinya perakarannya itu langsung bisa ditanam, tapi hasil buahnya kecut atau asam,” jelas pria yang akrab disapa Angga ini.

Selanjutnya menyiapkan media tanam dengan kedalaman 30 sampai 50 sentimeter. Kemudian, bisa disiapkan para-para dengan ketinggian sesuai yang diinginkan.

Panen awal bisa menghasilkan lima sampai sepuluh dompol atau tangkai pada usia tanam lima sampai tujuh bulan.

Penyiraman bisa dilakukan setiap hari saat musim kemarau. Sebab, ketika musim hujan, buah anggur milik Angga dibiarkan karena hasilnya bisa rusak dan tidak bagus.

SEGAR: Buah anggur milik Angga yang sudah siap konsumsi. (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)
SEGAR: Buah anggur milik Angga yang sudah siap konsumsi. (LAILIYATUN NURIYAH/JPRM)

”Kalau musim hujan memang berbuah, tapi dibiarkan tidak dilakukan perawatan karena percuma juga hasilnya tidak bagus. Hal itu karena air hujan mengandung natrium yang sangat tinggi. Sebenarnya bisa, tapi perlu greenhouse,” ucap Angga.

Pemakaian pupuk pada buah anggur milik Angga ini menyeimbangkan unsur natrium, fosfor, dan kalium (NPK).

Kemudian, untuk memaksimalkan pembuahan bisa menggunakan KNO3 dan mono kalium phosphate (MKP) dengan menghilangkan unsur natrium untuk mencegah kerusakan terhadap buah.

Pria yang juga menekuni bisnis usaha burung walet ini menggunakan pupuk kandang dari kotoran burung waletnya itu.

Caranya, melalui proses fermentasi agar hasilnya bisa maksimal. ”Untuk pupuk itu bisa diberikan seminggu sekali, tapi saat mau dibuahkan bisa seminggu dua kali agar hasilnya bisa maksimal,” terang Angga.

Dia juga membungkus buah anggurnya agar terhindar dari hama burung dan kelelawar.

Penanganan hama jenis kutu-kutuan bisa disemprot dengan menggunakan pestisida. Sedangkan fungisida untuk hama dari jamur.

”Kalau mengerti perawatan dan penanganannya itu, kegiatan berkebun lebih menyenangkan,” tuturnya. (ail/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#desa montok #buah anggur #Menanam #asam #Gampang-Gampang Susah #koleksi #Manggala Krisna Sugiharto #kecamatan larangan