PAMEKASAN, RadarMadura.id – Setiap karya seni adalah ungkapan dari penciptanya.
Putih punya pendapat tersendiri dalam menafsirkan karya. Bagi dia, seni bukan hanya tentang menciptakan keindahan.
Tidak semua lukisan harus digambarkan dengan indah. Sebab, hampir setiap seniman pasti memiliki gaya, genre, dan paham yang khas untuk menciptakan seni lukis.
Karena itu, antara yang satu dengan lainnya tidak akan sama.
”Seni adalah ekspresi yang digambarkan. Kalau saya dipaksa untuk menggambar hal-hal yang indah akan sedikit kesulitan. Mungkin itulah yang menjadi salah satu alasan saya tidak pernah menang jika ikut lomba di sini," ungkap remaja putri bernama lengkap Salwanida Putih Shafiyyah itu.
Buah hati pasangan Sigit Purnomo dan Ema Surahmi itu memang menyukai aliran seni yang realis seperti yang dilakukan ayahnya dulu. Namun, itu tak berlangsung lama.
Sebaliknya, Putih justru lebih tertarik dengan aliran ekspresionis.
Dia selalu mengedepankan ekspresi individu dalam menuangkan seni rupa.
Buktinya, hampir setiap lukisan yang dia miliki merupakan hasil dari sebuah imajinasi. Ide-ide itu Putih dapatkan dari karakter kartun, game, dan buku fantasi.
Saat mengikuti pameran UOB 2023 di Jakarta, Putih melukis doodle art dengan tema Hutan Ajaib Papua.
Dalam karya lukisan tersebut, terdapat seekor burung cenderawasih yang hidup di hutan, tetapi dikelilingi nuansa perkotaan.
Kemudian, delapan karya seni rupa yang dia kirimkan di Artjog 2024 merupakan ekspresi individu.
Bahkan, satu lukisan dengan tema Kehidupan di Atas Awan laku dengan harga Rp 8 juta. Sementara sisanya masih terpajang dengan rapi.
Semua lukisan itu punya makna tersendiri. Sampai saat ini, saya masih belajar untuk bisa lebih baik. Motivasi saya jangan pernah berhenti mencoba hal-hal yang kreatif. Tetaplah semangat tanpa putus asa," tandasnya. (afg/luq)
Editor : Achmad Andrian F