PAMEKASAN, RadarMadura.id – Short movie berjudul Guru Tugas 2 mendapat sorotan dari masyarakat pesantren. Salah satunya dari FKPP Pamekasan.
Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Pamekasan mengecam isi video yang ditayangkan Akeloy Production Sabtu (4/5). Adegan dalam short movie itu juga menuai banyak kritik di medsos.
Ketua FKPP Pamekasan KH Taufiqurrahman mengaku prihatin dan menyayangkan beredarnya short movie tersebut.
Menurut dia, isi film itu sangat mencederai pondok pesantren yang melahirkan guru tugas untuk disebar di berbagai daerah di Indonesia.
Pria yang akrab disapa Kiai Apik itu menjelaskan, guru tugas membawa misi suci dari pesantren.
Mereka santri pilihan yang dikirim pesantren ke sejumlah lembaga untuk membantu mengajar dan mendidik masyarakat.
Munculnya film Guru Tugas 2 tersebut seakan menafikan kebaikan dan kemaslahatan dari program yang dijalankan pesantren-pesantren besar tersebut.
Dengan itu, pria yang juga ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Pamekasan ini menilai, akun YouTube tersebut tidak suka terhadap program yang dicanangkan pondok pesantren.
Menurut dia, guru tugas dari pesantren punya jasa dalam perjuangan mencetak generasi bangsa yang andal.
”Kita ketahui bersama, mayoritas pesantren-pesantren besar dan terkenal memberangkatkan guru tugas untuk mengabdikan diri ke beberapa lembaga di suatu daerah,” ungkapnya.
Kiai Apik dan anggota FKPP Pamekasan sangat mengecam dan memohon Akeloy Production segera menarik short movie Guru Tugas 2 tersebut.
Dia juga meminta pemilik akun minta maaf kepada publik dan mengakui bahwa hal tersebut keteledoran para kru.
”Apabila hal ini tetap berlanjut, bukan tidak mungkin kami akan melakukan langkah-langkah hukum untuk melaporkan pencemaran nama baik pesantren,” tegasnya.
Di tempat terpisah, sutradara Akeloy Production Yusron Hamdani menjelaskan, cerita short movie Guru Tugas 2 diambil dari kisah nyata.
Cerita itu diambil dari guru tugas yang jadi pengemis di Surabaya setahun lalu. Dia mengaku mendapatkan karma dari pesantren tempatnya belajar.
”Dia (pengemis) mengaku mendapat bala dari pesantren karena nakal dan melanggar yang berakibat fatal. Yakni, tertarik pada muridnya hingga memaksa berzina,” jelasnya.
Pria yang akrab disapa Yus Muhammad itu mengungkapkan, pengemis itu dihakimi warga dan diminta untuk bertanggung jawab.
Pengemis tersebut siap menikahi. Namun, muridnya itu keburu meninggal sehingga dia diusir.
Orang tuanya syok hingga meninggal dan diusir oleh keluarga besarnya. ”Jadi, seperti itu kisah sebenarnya,” ungkapnya.
Yus Muhammad mengeklaim, pengemis itu menyarankan agar kisahnya diangkat agar jadi pelajaran bagi guru tugas. Tujuannya, agar mereka berhati-hati ketika di tempat tugas.
Sebab, ujian paling berat yaitu seorang perempuan. Cerita itu juga menegaskan bahwa barokah dan karma itu memang ada.
Karena itu, dia meminta masyarakat sabar menunggu kelanjutan part selanjutnya sebagai jawaban dari short movie tersebut.
Dia juga meminta agar penonton tidak menilai dari segi negatifnya saja. Kru Akeloy Production tidak buka suara karena film tersebut belum selesai.
”Jadi, ambil sisi positifnya juga, di short movie itu kami tidak hanya membahas guru tugas yang melanggar,” ungkapnya.
”Kami juga menyampaikan kebaikan-kebaikan guru tugas yang lain sehingga tidak memukul rata bahwa guru tugas seperti itu,” paparnya.
Yus Muhammad mengakui perihal adegan-adegan yang tidak pantas dalam film tersebut sehingga dia meminta maaf.
Dia juga meminta maaf kepada guru tugas yang merasa tersinggung akan short movie yang dibuat.
”Kami benar-benar meminta maaf. Namun, untuk menghapus, mohon maaf kami tidak bisa. Adegan-adegan tidak senonoh itu sudah kami cut dua jam setelah tayang,” pungkasnya. (ail/bil)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia