PAMEKASAN, RadarMadura.id – Tahun ini Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pamekasan menggelar pelatihan pembuatan pupuk organik.
Namun, kuota peserta dibatasi. Setiap kecamatan hanya diambil satu kelompok tani (poktan).
Plt Kepala DKPP Pamekasan Nolo Garjito mengatakan, kuota peserta pelatihan dibatasi satu kecamatan diikuti satu poktan saja.
Alasannya, anggaran yang dimiliki terbatas. Meski anggarannya mencapai Rp 1 miliar, namun tidak bisa mencakup semua poktan.
Dia mengakui, kuota yang disediakan sangat kurang jika disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Namun, pihaknya tidak bisa berbuat banyak karena terkendala dana.
”Anggaran sekitar Rp 1 miliar digunakan untuk pelatihan beserta alat-alat dan mesin. Kecil apabila dibandingkan tahun kemarin yang mencapai Rp 3 miliar,” ujarnya.
Nolo menjelaskan, poktan yang mengikuti pelatihan itu hasil seleksi dari penyuluh. Ada beberapa penilaian agar bisa terpilih.
Di antaranya ketersediaan kotoran hewan. Selain itu, ada bahan tambahan seperti sekam, terpal, bahan penghilang bau kotoran, dan termometer untuk mengukur kualitas pupuk yang dikelola.
”Nah, bahan tambahan ini dari kami. Tapi, biasanya di masing-masing poktan itu tidak sama,” terangnya.
Nolo meminta poktan memahami dan belajar dengan baik dalam pelatihan pembuatan pupuk organik.
Sebab, jika sudah bisa produksi sendiri akan mengurangi pengeluaran untuk pembelian pupuk kimia. Selain itu, produksi pupuk organik ini bisa menjadi peluang usaha karena bisa diperjualbelikan.
”Kan enak kalau sudah diperjualbelikan, sama-sama untung,” ungkapnya.
Petani Desa Bandungan, Kecamatan Pakong, Arif Cava menyayangkan kegiatan pelatihan ini karena tidak merata.
Harusnya DKPP Pamekasan lebih banyak menyiapkan kuota sehingga mampu memfasilitasi semua poktan di setiap kecamatan.
”Jadi, kami berharap DKPP Pamekasan bisa rembuk terlebih dahulu dan dikoreksi kembali program ini,” tukasnya. (ail/bil)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti