PAMEKASAN, RadarMadura.id – Buku yang mengupas sejarah tentang Madura sudah cukup banyak. Akan tetapi, mayoritas ditulis oleh para peneliti atau akademisi dari luar. Artinya, bukan orang kelahiran Madura.
Buku-buku itu kerap dipakai sebagai referensi utama dalam mengkaji kompleksitas Madura. Baik secara historis, sosial, politik, dan budaya.
Salah satu contohnya adalah Buku Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura 1850–1940 karya Kuntowijoyo, Madura dalam Empat Zaman: Pedagang, Perkembangan Ekonomi, dan Islam ditulis oleh Huub de Jonge.
Kemudian, Lebur: Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura ditulis Helene Bouvier. Dan, masih banyak lagi.
Namun, ada beberapa karya yang ditulis oleh orang Madura. Sebut saja Carok: Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura oleh A. Latief Wiyata, Sejarah Madura Selayang Pandang karya Abdurachman, dan lain-lain.
Terbaru, ada Demadurologi: Manusia Madura, Kemewaktuan dan Memori ditulis Khairul Anam asal Desa Tagangser Daja, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan.
Buku yang ditulis oleh alumnus Universitas Brawijaya (UB) Malang itu menarik minat Gusdurian Pamekasan untuk dibedah dan didiskusikan. Diikuti puluhan mahasiswa dan penggiat literasi.
Bedah buku bertempat di Taneyan Lanjang Heritage, Desa Larangan Luar, Kecamatan Larangan, Rabu (10/1). Pengulas buku adalah jurnalis Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Moh. Junaidi.
Junaidi mengatakan, buku Demadurologi merupakan karya yang penting untuk diapresiasi. Baik sebagai literatur maupun sebagai tesis tentang wacana sejarah Madura. Apalagi, karya tersebut lahir dari generasi penulis muda.
”Bagi saya, karya Anam ini patut diapresiasi. Secara tidak langsung turut memberikan sumbangsih penting sebagai literatur sejarah Madura,” katanya.
Pria yang karib disapa Maniro AF itu menyatakan, sebagaimana Kuntowijoyo, Anam juga fokus pada perkara sosial-ekonomi masyarakat Madura.
Sementara persoalan kebudayaan luput dari tilikan. Kecuali persoalan stereotip keras yang dilekatkan kepada orang-orang Madura.
Baca Juga: Catat Tanggalnya! Jadwal Rilis Manga One Piece Chapter 1104, Penggemar Harus Baca
”Intinya, Anam ingin melakukan dekolonisasi atas pandangan-pandangan yang dilekatkan orang-orang luar terhadap masyarakat Madura,” ujarnya.
Maniro juga memaparkan, upaya dekolonisasi atas pandangan-pandangan itu sebenarnya bukan hal baru.
Penulis buku Demadurologi hanya menebalkan bahwa stereotipe orang luar terhadap Madura sangat kolonialistik.
Junaidi juga menilai, buku tersebut tampak seperti tugas akhir mahasiswa, yakni skripsi. Sebab, buku setebal 231 halaman itu setengahnya menjelaskan tentang teori, metodologi, dan posisinya dalam menuliskan karyanya.
Baca Juga: Resep Membuat Kaldu Gurih dan Nikmat, Kuliner Legend Ala Sumenep Madura
”Salah satu teori yang dijadikan pisau analisis adalah hermeneutika ganda Anthony Guddens, Sosiolog Britania Raya.
Tapi, dalam pembahasannya, teori-teori yang dikupasnya nyaris tidak maksimal. Ini pembacaan subjektif,” jelasnya.
Koordinator Gusdurian Pamekasan Bagas Ardiyant menyampaikan, bedah buku tersebut diadakan agar pengetahuan sejarah digemari. Terutama generasi muda Madura agar lebih mengenal identitasnya.
Dia yakin, semua buku, terutama jika berkaitan dengan sejarah tidak pernah terlepas dari berbagai kepentingan. Terutama, posisi Madura sebagai bagian dari daerah di negara ketiga alias pascakolonial.
”Intinya, kita akan terus mempelajari dan melacak sejarah kita sebagai pengetahuan. Sejarah tidak akan pernah selesai ditulis, karena dia kontinu,” pungkasnya. (di/yan)
Editor : Fatmasari Margaretta