PAMEKASAN, RadarMadura.id – Universitas Islam Madura (UIM) menjadi salah satu kampus favorit di Pulau Garam. Perguruan tinggi swasta dengan sebutan kampus hijau itu juga memiliki banyak prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Civitas academica UIM terus berbenah guna meningkatkan kualitas pembelajaran. Apresiasi dari publik juga sangat tinggi. Banyak penghargaan yang diraih selama beberapa tahun terakhir.
Rektor UIM Pamekasan Ahmad menyatakan, banyak program unggulan dijalankan. Beberapa di antaranya mendapat apresiasi positif dari publik.
”Pada 2023, kampus kami mendapat penghargaan dari Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) sebagai kampus inovatif dan religius,” katanya Rabu (27/12).
UIM, kata Ahmad, memiliki konsep pengembangan keilmuan yang disebut dengan Lima Menara Ilmu. Yakni, Keislaman, Keindonesiaan, Kepesantrenan, Kemaduraan, dan Keaswajaan.
Latar belakang konsep Lima Menara Ilmu itu karena UIM didirikan oleh tokoh NU dan pondok pesantren. Melalui program tersebut, UIM menekankan ajaran-ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah.
Dia menjelaskan, salah satu nilai yang terkandung dalam Lima Menara Ilmu itu adalah kepesantrenan. UIM merupakan salah satu kampus yang berintegrasi dan berada di bawah naungan pondok pesantren.
Ahmad menambahkan, visi misi UIM berkarakter Islam Ahlussunnah Waljamaah yang nasionalis yang disebut sebagai nilai keindonesiaan. Visi misi tersebut akan terus berlaku sepanjang UIM berdiri.
Kemudian, nilai yang lain pada Lima Menara Ilmu yakni tetap memegang teguh karakter Madura. Ada anekdot warisan leluhur Madura yang terus ditanamkan di UIM, yakni ” bhuppa’ bhabhu’ ghuru rato”.
”Anekdot itu menggambarkan penghormatan orang Madura kepada orang di sekitarnya. Artinya, menjadi orang tua, guru, ataupun murid tetap mesti berakhlakul karimah,” paparnya.
Ahmad memaparkan, UIM juga mendapat penghargaan di level internasional. Yakni, Asia Excellence Education and Educator Winner Choice Awards 2023–2024 yang diselenggarakan oleh Asia Excellence Choice Awards.
Kampus yang dipimpinnya, kata Ahmad, terpilih lantaran termasuk perguruan tinggi berbasis pondok pesantren. Namun, tetap mampu menjalankan program-program pemerintah.
”Meski ada di bawah naungan pondok pesantren, acuannya tetap pada aturan dan program pemerintah. Alhamdulillah, kami dipercaya mendapat penghargaan itu,” ujarnya.
Selain itu, kampus UIM dipilih oleh Asia Excellence Choice Award karena banyaknya jebolan UIM yang diterima di luar negeri. Hal tersebut dicapai berkat kerja sama beberapa pihak dan kerja sama dengan beberapa mitra stakeholder.
”Cara kami mencetak mahasiswa berkualitas yakni mengirim mahasiswa untuk mengikuti kegiatan praktik kerja lapangan (magang) di bidang kesehatan di beberapa rumah sakit luar negeri. Bahkan, diterima menjadi karyawan di sana,” terangnya.
Penelitian dan riset yang dilakukan oleh dosen terus dimasifkan. Harapannya, tahun ini UIM bisa mendapat ranking satu se-Madura dalam penilaian UniRank.
”Sedangkan untuk penilaian Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) pada 2022, UIM meraih ranking kedua se-Indonesia,” terangnya.
Target Semua Dosen Bergelar S-3
Meski banyak prestasi, Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan tidak berpuas diri. Pengembangan terus dilakukan untuk kemajuan kampus yang beralamat di Jalan Pondok Peantren Miftahul Ulum Bettet, Pamekasan, Madura, Gladak, Bettet, Pamekasan.
Rektor UIM Pamekasan Ahmad mengatakan, UIM ke depan akan terus melakukan inovasi. Salah satu di antaranya melakukan pembinaan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.
”Hal tersebut merupakan bentuk implementasi dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM),” kata Ahmad saat ditemui di kantornya Rabu (27/12).
Menurut Ahmad, UIM sudah merealisasikan program tersebut melalui kolaborasi dengan kampus Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya dan Universitas Ciputra. ”Alhamdulillah, UIM meraih peringkat kedua tingkat perguruan tinggi Jatim,” terangnya.
Ahmad memaparkan, dua kampus besar dan berkualitas di Surabaya itu mau berkolaborasi dengan UIM seperti pertukaran mahasiswa dan dosen. Dengan demikian, dapat saling berbagi pengetahuan untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang unggul.
”SDM di UIM ke depan semuanya harus berkualitas. Semua dosen harus menjadi S-3. Kami memfasilitasi tenaga pengajar yang masih S-2 agar melanjutkan pendidikan doktor,” ujarnya.
Menurut Ahmad, dalam mencetak alumni yang luar biasa, memang memerlukan tenaga pendidik yang terbaik pula. Jika dosennya berkualitas, alumninya juga akan banyak yang hebat.
Selama ini, alumni UIM diterima dengan baik oleh masyarakat. Bahkan, banyak alumni sudah menempati posisi strategis di dunia kerja.
”Ada yang diterima di perbankan, instansi pertanian, kesehatan, dan sebagainya. Kami membuktikan bahwa UIM bisa mencetak generasi emas bangsa,” pungkasnya. (bai/han)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Ina Herdiyana