PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pagar bercat hitam dan rumah bercat hijau menjadi tempat Bobon menghabiskan waktu bermain musik. Pria berbaju batik kuning itu menyambut ramah kedatangan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Selasa (12/12). Senyum khas Bobon menjadi sapaan salam kenal darinya.
”Silakan masuk. Parkir di bawah pohon mangga itu motornya biar tidak panas,” kata pria bernama lengkap Imron Wicaksono.
Bobon merupakan salah seorang tunanetra sejak lahir pada 1988. Selain menempuh pendidikan tinggi, dia mendapat amanah sebagai guru. Tidak semua orang bisa menjalani profesi luar biasa itu. Dia mengajar musik dan braille di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Bugih.
Warga Desa Buddih, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, itu suka pada dunia musik sejak 2000. Sejak saat itu dia belajar alat-alat musik. Bagi sebagian orang, tunanetra dianggap sebagai kekurangan. Namun, Bobon menjadikan kekurangan sebagai kelebihan dengan menggeluti dunia musik.
”Belajar alat-alat musik itu tahun 2000-an, tapi kalau suka musik memang sejak kecil,” katanya.
Alat musik pertama yang disukai Bobon yakni gitar. Namun, saat manggung dia beralih untuk menekuni piano. Berawal dari sang kakak yang sering memutar lagu-lagu waktu itu, Bobon semakin cinta pada dunia musik.
Gitar menjadi alat musik pertama yang dia pelajari secara otodidak. Yang kemudian dia sering bertemu dengan banyak orang yang juga pencinta musik. Dari situ Bobon kembali belajar agar lebih mahir memainkan beberapa alat musik. ”Alhamdulillah, banyak yang bantu sehingga saya bisa di titik ini,” kata Bobon.
Dari beberapa alat musik yang dia pelajari, biola menjadi alat musik yang dianggapnya sulit. Sebab, intonasi yang datar dan dibutuhkan keterampilan khusus untuk jenis alat musik gesek itu.
Keahliannya dalam memainkan alat musik kerap memukau penonton. Dia biasa tampil di acara resepsi penikahan, konser, dan event Semalam di Madura pada 2015 menjadi bukti keahlian Bobon di bidang musik.
Semua aliran musik dia suka dan dia bisa. Mulai pop, rock, dan dangdut. Rhoma Irama dan Ebiet G. Ade menjadi musisi favorit Bobon. ”Rhoma Irama itu karena dengan dakwahnya melalui musik. Kalau Bang Ebiet itu karena memang karya-karyanya yang bagus,” ungkap guru musik dan braille di SLBN Bugih itu.
Untuk mengembangkan minat, bakat, dan profesinya, Bobon kini menempuh pendidikan strata satu di Universitas PGRI Argopuro (Unpar) Jember. Dia ambil jurusan pendidikan luar biasa. Tidak ada waktu yang terbuang di kehidupan Bobon, menyalurkan ilmu yang dia punya di SLBN Bugih. Kemudian, selalu mengasah kemampuan di bidang musik.
Menurut Bobon, musik menjadi salah satu cara untuk menenangkan pikiran. Karakter seseorang pun bisa dinilai melalui musik yang sedang dimainkan. Baginya, apabila tak mencintai, maka menjalani kehidupan musik itu tidak akan senang. ”Jadi, belajar musik ya karena saya suka dan cinta,” ujarnya.
Sebelum JPRM pulang, Bobon menyuguhkan keahlian dengan memetik gitar kesayangannya. ”Kalau gitar pertama sudah rusak. Ini pemberian dari teman,” katanya. (ail/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti