PAMEKASAN, RadarMadura.id – Cinta menjadi dasar utama dalam melakukan sesuatu. Termasuk, dalam menyalurkan minat dan bakat. Seperti yang dilakukan Fathorrozy, dia mampu bertahan selama puluhan tahun di dunia kaligrafi karena dorongan rasa cinta.
Langit Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, cukup cerah, Selasa (14/11). Kendaraan lalu-lalang ramai lancar.
Baca Juga: Ahmad Hafid Punya Bakat Buat Kaligrafi Vandel Akrilik sejak Mondok
Sementara, kuda besi yang ditumpangi Jawa Pos Radar Madura (JPRM) terus melaju ke arah Dusun Tomang Mateh, desa setempat.
JPRM menuju kediaman Fathorrozy. Pria yang berhasil meraih juara 3 ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Korpri Tingkat Jawa Timur. Tepatnya, cabang khat golongan dekorasi putra.
Sekitar 10 menit perjalanan, JPRM sampai di salah satu rumah bercat putih. Rumah itu merupakan kediaman Fathorrozy.
Kedatangan koran ini disambut ramah oleh Septi, istri tercinta sang juara lomba khat atau kaligrafi tersebut.
”Ayo masuk dulu, Abinya anak-anak masih keluar sebentar,” kata perempuan berhijab itu.
Sekitar lima menit berselang, pria berkopiah hitam dan kemeja cokelat datang. Dia Fathorrozy. Dia dikenal humble. Sangat mudah mencairkan suasana. ”Sudah daritadi?” ucapnya sambil tersenyum.
Setelah bercerita berbagai hal, dia kemudian menceritakan awal masuk di dunia kaligrafi. Kegemaran yang ditekuni itu berawal sejak dia mengikuti pelatihan khattat di Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata pada 2003.
Setelah sekian lama bergabung, dia pun diangkat menjadi pengurus di pelatihan itu. Dengan menjadi pengurus, kesempatan mengasah kemampuan lebih besar.
”Karena lebih baik mengajar daripada belajar. Soalnya, sebelum memberi pemahaman kepada orang lain, kita sendiri harus paham,” jelasnya.
Menurut Fathorrozy, dalam menekuni apa pun, harus didasari rasa suka dan cinta. Dengan begitu, yang dilakukan akan maksimal dan tidak akan pernah merasa lelah, apalagi menyerah.
Puluhan tahun berkecimpung di dunia seni lukis, pria yang akrab disapa Paonk ini tidak pelit ilmu. Buktinya, dia membimbing para santri di sejumlah pondok pesantren.
Di antaranya, Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata, Al-Mujtama’, Darul Ulum Banyuanyar, kemudian Al-Waroqot. ”Saya niatkan ini untuk amal jariyah,” terangnya.
Selama belajar, tentu Paonk menemukan beberapa kesulitan. Terutama harus menguasai betul jenis-jenis khat yang telah ditentukan. Di antaranya, jenis naskhi, tsuluts, diwani, dan diwani jali. kemudian farisi, riq’ah, dan kufi.
Baca Juga: Janji Cetak ASN, Wartawan, dan Ahli Al-Qur'an
Dari tujuh jenis khat itu, yang paling susah bagi Paonk adalah jenis naskhi dan tsuluts. Menurut dia, jika sudah menguasai dua jenis itu, yang lainnya akan terasa mudah.
Berbagai penghargaan sudah pernah diraih Paonk. Mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi. Pertengahan Oktober lalu, pria yang juga berprofesi sebagai dosen di IAIN Madura itu mengikuti lomba MTQ cabang khat Korpri tingkat Jatim golongan dekorasi putra.
”Alhamdulillah bisa juara meskipun juara tiga,” terangnya.
Dia mengaku, tidak pernah menjual hasil karyanya. Tapi, sering diminta untuk melukis beberapa dekorasi di masjid, dhalem kiai, dan sebagainya.
Dia mengaku akan terus mengikuti mengasah kemampuan dirinya. Dia juga akan terus berkarya. ”Meskipun umur sudah tua, karya tidak boleh menua,” tukasnya sambil tertawa. (*/pen)