PAMEKASAN, RadarMadura.id – Sejak di bangku kuliah, Ghafiruddin sudah mandiri. Dia membuat dan memasarkan aksesori pakaian adat Madura yaitu odheng atau ikat kepala. Selain melestarikan baju adat warisan leluhur, dia juga mendapatkan cuan.
Ghafiruddin menuturkan, usaha tersebut dirintis sejak semester VII. Selain untuk memenuhi tuntutan ekonomi, alasan dia membuat odheng adalah untuk melestarikan odheng. ”Saya sejak awal meyakini usaha pembuatan odheng cukup prospektif,” ujarnya.
Dia mengakui, memang tidak memiliki kemampuan membuat odheng. Karena itu, dia belajar secara otodidak. ”Belajarnya tidak butuh waktu lama. Alhasil, dalam waktu sepekan saya sudah bisa membuat satu odheng,” terangnya.
Pria kelahiran Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu, itu menerangkan, modal awal untuk memulai usaha pembuatan odheng hanya Rp 300 ribu. Odheng buatan Ghafiruddin selanjutnya dijual ke pedagang yang ada di Pasar 17 Agustus Pamekasan. ”Karena peminatnya bertambah, saya membuat odheng dalam jumlah banyak,” katanya.
Alumnus IAIN Madura itu memaparkan, harga odheng buatannya bervariasi. Harga odheng rakyat dibanderol Rp 20.000 dan harga odheng bangsawan berkisar Rp 80 ribu sampai Rp 85 ribu. ”Omzet saya dalam sebulan rata-rata Rp 2,5 juta,” ungkapnya.
Ditambahkan, saat ini banyak sekali peluang yang bisa dimanfaatkan jika seseorang benar-benar ingin menjadi pengusaha. Apalagi, pemasarannya bisa memanfaatkan media online maupun offline. ”Tinggal mau benar-benar berusaha atau berdiam diri. Jika pantang menyerah, pasti ada jalan untuk merengkuh kesuksesan,” pungkasnya. (bai/yan)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Fatmasari Margaretta