PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pemerintah belum menemukan solusi untuk mengatasi kekeringan. Indikasinya, tahun ini kekeringan kritis kembali terjadi.
Akibatnya, warga membutuhkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bendana Daerah (BPBD) Pamekasan Akhmad Dhofir Rosidi mengatakan, Tahun ini 321 dusun yang ada di 77 desa mengalami kekeringan.
”Kalau tahun lalu, kekeringan terjadi di 322 dusun. Artinya, tahun ini berkurang satu dusun. Itu hasil asesmen yang kita lakukan pada tahun ini,” katanya.
Menurut dia, instituisinya sudah menyediakan delapan armada untuk menyuplai air bersih pada daerah terdampak.
Perinciannya, empat armada berkapasitas 5.000 liter, sisanya berkapasitas 4.000 liter. ”Satu armada bisa mengirim 6 sampai 7 kali dalam sehari.
Sesuai dengan kebutuhan dan permintaan masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (Walhi Jatim) Wahyu Eka Setyawan mengatakan, kekeringan merupakan hal buruk yang dihadapi masyarakat.
Karena itu, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mencarikan solusi.
Solusi itu, kata Eka, tidak cukup hanya dengan memasok bantuan air bersih. Namun, harus ada program jangka panjang.
Misalnya dengan sumur bor atau menghidupkan kembali sumber air. ”Tidak akan teratasi kalau tidak memiliki program jangka panjang. Suplai air bersih itu hanya sekali waktu,” jelas Eka.
Dia merekomendasikan pemerintah untuk melakukan kajian agar bisa mengetahui penyebab kekeringan. Apakah memang sudah terjadi bertahun-tahun atau dalam 10 tahun terakhir ini.
”Kalau belum sampai 10 tahun saya rasa sumber air masih bisa dihidupkan kembali,” tandasnya. (di/yan)
Editor : Abdul Basri